Berburu Ramen Halal Lanzhou Lamian di Jimbocho (updated)

Hari Senin tanggal 21 Agustus lalu, di timeline Facebook saya muncul postingan dari page Muslim Friendly Information in Japan yang memberitakan bahwa restoran ramen halal lamian Mazilu (baca: mazuru) dari Lanzhou, Cina, akan buka di sekitar kawasan Jimbocho. Konon toko ini katanya adalah salah satu dari toko ramen lamian paling terkenal di Cina dan sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu!

Begitu tahu kalau kaldu dan topping Lanzhou lamian ini adalah daging sapi, saya langsung bertekad berangkat ke sana secepatnya dan baru bisa dieksekusi sehari setelah restorannya mulai dibuka. Tapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, waktu saya mendarat di depan restoran, bapak-bapak stafnya persis sedang memasang tulisan kalau sup ramen untuk hari itu sudah SOLD OUT!

Pintu depan halal ramen lanzhou lamian Mazilu

Sakit rasanya hati ini pas ngeliat bapaknya masang papan “sold out” persis waktu saya mendarat di depan restoran T_T

Memang sih di situs mereka dituliskan kalau supnya habis, mereka udahan jualannya. Makanya sekitar 15 menit sebelum tiba sore itu, saya sempat menelepon untuk memastikan apa ramennya masih ada, dan bapaknya bilang masih ada untuk delapan porsi lagi. Waktu itu menunjukkan pukul 15.50. Dalam hati saya meyakinkan diri “Siapa pula yang bakal makan ramen jam nanggung begini, delapan porsi harusnya masih cukuplah sampai menjelang saya tiba”. Tapi kenyataan memang tak selalu seindah yang dibayangkan *halah!

Berhubung saya termasuk tipe yang pantang menyerah dalam urusan kuliner, besok siangnya saya niatkan untuk ikut antri dari jam makan siang demi menghindari risiko kehabisan sup lagi kalau datangnya sore-sore. Sebagai informasi, ternyata restoran Mazilu ini juga diberitakan cukup heboh di media lokal di Jepang, karena konon katanya ini memang pertama kalinya ramen Lanzhou lamian ini mulai buka toko di Jepang, ditambah lagi restorannya pun bisa dibilang sudah punya sejarah panjang.

Siang itu saya mendarat di lokasi sekitar jam 12 siang. Restoran mulai buka jam 11, tapi karena satu dan lain hal, saya gagal tiba lebih awal. Antrian sudah cukup panjang. Sepertinya selain diramaikan orang Jepang yang seperti biasa selalu heboh dengan makanan baru, orang Cina sendiri juga banyak yang meniatkan diri datang jauh-jauh ke sini (kesimpulan sepihak dari hasil nguping beberapa orang yang antri di depan dan di belakang saya yang tampaknya berasal dari Cina dan sudah tinggal di Jepang). Di artikel di atas tadi juga dituliskan kalau orang-orang Cina pun banyak yang bilang “Akhirnya bisa makan Lanzhou lamian ini di Jepang!”.

Antrian panjang siang itu

Taaapi, walaupun antrian mengular panjang, perputaran pembeli berjalan cukup lancar dan cepat. Hampir semua yang makan di sini langsung keluar begitu sudah selesai, jadi sepertinya tidak ada acara ngobrol-ngobrol di dalam. Ini penting banget mengingat beberapa restoran ramen halal yang didatangi turis atau warga asing kebanyakan tidak menganut “budaya” makan ramen di Jepang yang tektok selesai makan langsung cabut, yang terkadang mengakibatkan antrian cukup lama untuk dapat giliran makan ramen halal. Atau mungkin juga karena waktu itu saya datang di jam makan siang hari kerja, jadi saingannya adalah para karyawan yang harus segera kembali ke kantor, hehe..

Setelah mengantri sekitar 20 menit, akhirnya tiba giliran saya untuk membeli tiket di mesin yang diletakkan di dekat pintu masuk.

Mesin tiket

Pilihan menunya sendiri cuma ada satu, yaitu beef noodle. Untuk jenis mi-nya sendiri ada tiga pilihan, yaitu yang halus, pipih, atau segitiga. Ibu-ibu staf di sana menyarankan untuk mencoba mi yang halus (細麺) bagi yang baru pertama kali mencicipi ramen ini. Ada juga pilihan untuk tambahan irisan daging seharga 200 yen, dan tambahan pakuchi(パクチ) aka corriander leaf seharga 120 yen. Sebagai pecinta daging, tanpa ragu-ragu saya pun memutuskan menambah topping irisan daging 😀

<<update per Juni 2018>>

Sekarang cara pesan ramennya langsung ke petugas di meja kasir dan bukan beli tiket lewat mesin di atas lagi. Mungkin supaya konsumen bisa tanya-tanya langsung juga ke petugasnya kali ya menu yang mana yang recommended atau kalau ada yang minta penjelasan lebih lanjut beda jenis mi dan sebagainya. Oiya, pesanan pelanggan juga langsung di-input ke iPad yang sepertinya langsung terhubung ke dapur. Jadi, lebih efisien juga dari sisi waktu dan proses pembuatan ramen.

Menu at Mazulu Ramen Jimbocho

Pilihan menu yang sama sekarang tampilannya begini *dipikir-pikir ternyata gak ada tulisan bahasa Inggrisnya ya!

Untuk yang tidak suka pakuchi (kadang ada yang kurang suka dengan aroma dan rasanya yang cukup kuat) bisa request untuk dikurangi jumlahnya atau tidak dimasukkan pakuchi sama sekali ke dalam ramen kita saat staf restoran memastikan pesanan. Jumlah ra-yu/ラー油 (spicy sesame oil) juga bisa diatur sesuai level pedas yang diinginkan (ini juga dipastikan oleh staf restoran). Waktu itu saya minta porsi ra-yu nya dikurangi karena masih belum ada bayangan jangan-jangan pedasnya ramen Cina beda dengan level pedas orang Jepang. Tapi ternyata menurut saya level pedasnya ternyata masih kurang, jadi mungkin berikutnya saya bakal minta ra-yu porsi maksimal!

Ramen Lanzhou Lamian Mazilu

Ramen Lanzhou Lamian Mazilu

Kuah ramennya di luar perkiraan saya ternyata bisa dibilang sappari (alias segar)! Padahal tadinya saya membayangkan kuahnya bakal setrong dengan jumlah micin cukup banyak seperti halnya beberapa ramen Cina yang pernah saya cicipi di Roppongi atau Kinshicho (ramen yang ini kapan mau dibikin postingannya, dek?).

Awalnya begitu dapat tempat duduk, saya sempat mencium wangi herbs dari supnya, mungkin karena ramen lamian ini memang tipe 薬膳 (aka chinese traditional medicinal cooking style), dan sepertinya spice-nya itu yang bikin kuahnya enak! Dan walaupun kuahnya segar, sama sekali tidak berasa “hambar” bahkan untuk saya yang bisa dibilang adalah tipe orang yang suka makanan dengan bumbu yang kuat dan nendang! Satu hal lagi yang saya suka adalah, kuahnya tidak terlalu panas! Berhubung saya tidak bisa langsung makan makanan yang terlalu panas (aka 猫舌), apalagi untuk makanan berkuah, ramen lamian ini jadi pas banget untuk dinikmati langsung setelah dihidangkan tanpa perlu tiup-tiup dulu 😀

Penampakan di dalam restoran

Topping irisan daging sapinya tipis dan empuk! Sepertinya irisan daging sapi ini tidak terlalu dibumbui, tapi saya lebih banyak makan dagingnya disendok dan dimakan langsung dengan kuah, jadi kurang memperhatikan bagaimana rasa aslinya kalau tanpa kuah *maklum udah kalap 😀

Tekstur mi lamian ini menurut saya bisa dibilang “rapuh” dan tidak mochi-mochi (alias kenyal) seperti beberapa ramen Jepang yang pernah saya cicipi. Tapi yang jelas mi-nya berasa lebih gampang “patah”. Dan tampaknya analisis saya ini ada benarnya, waktu saya kasih lihat foto ramen ini ke produser di tempat saya part time, staf yang orang Jepang bilang “Kayaknya ini mi-nya terlalu mulus mirip soumen, gak seenak ramen Jepang pasti”. Sementara produser yang orang Cina bilang, menurut dia tekstur mi yang agak rapuh ini lebih enak. Oke sip, sepertinya ini adalah preferensi pribadi dan mungkin dipengaruhi tempat di mana mereka dibesarkan? *halah! Menurut saya sepertinya kuah Lanzhou lamian ini tidak terlalu meresap ke mi-nya, mungkin ada benarnya juga komentar staf di tempat part time saya yang orang Jepang, katanya tekstur mi Jepang biasanya memang “tidak mulus” supaya bisa menyerap kuah! Saya pribadi sepertinya lebih suka mi ramen Jepang yang mochi-mochi, tapi yang hand-stretch ini juga enak kok! Kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan mi-nya juga di dalam restoran!

Halal Ramen Lanzou Lamian Mazilu at Jimbocho

Mie nya baru keliatan setelah saya aduk dikit

 

Overall, menurut saya ramennya enak, terutama supnya! Dan saya dengan senang hati bakal merencanakan untuk datang lagi mencicipi mi yang bentuknya segitiga *penasaran juga gimana cara bikinnya 😀 Dan seperti yang saya sebutkan di atas, kalau supnya habis mereka bakal udahan jualannya, jadi perhitungkanlah jam kedatangan dan siapkanlah diri menghadapi kemungkinan tak kebagian ramen *lebay 😀 

<<update per Juni 2018>>

Akhirnya saya sudah berkesempatan mencicipi kedua jenis mi lainnya, yang model pipih dan segitiga. Bisa dibilang saya paling suka dengan tipe mi yang segitiga. Teksturnya agak lebih kenyal dan tidak serapuh mi kurus/halus (細麺) atau mi pipih (平麺). Tapi yaa, ini sih subjektif tergantung masing-masing orang ya karena ternyata suami saya lebih suka mi yang halus. Katanya sih karena minya kurus-kurus, jadi kuah ramennya lebih terasa meresap.

Yang jelas ramen di sini menurut saya sungguh sangat recommended dan masuk dalam daftar tempat wisata kuliner di Tokyo yang layak dikunjungi, versi saya 😀

Mi pipih di Mazulu Ramen Jimbocho

Mi pipih di Mazulu

Lanzhou ramen

Mi segitiga

Mi segitiga

Zoom in tekstur mi segitiga

…………………………………….

Mazilu Beef Noodles / 馬子禄 牛肉面

Lokasi: Tokyo-to, Chiyoda-ku, Kanda Jinbocho 1-3-18

東京都千代田区神田神保町 1-3-18

Jam buka: 11.00-14.30, 17.00-21.00

Advertisements

9 responses to “Berburu Ramen Halal Lanzhou Lamian di Jimbocho (updated)

  1. Yaa allah mbaaa, ngiler ngeliatnya jam segini, hahaha. Gapapa yang penting tadi makan malamku nissin ramen yang goreng (dan ternyata enak) #gapenting
    Jimbocho ini daerah mana mba? Enak ya sekarang jepang makin banyak ramen halal gini

    • Hihi, maapkan mbak ya preess, tapi tapi mi goreng nissin juga enak pastii (ini yang cup noodle bukan?)

      Jimbocho gak jauh dari Akihabara pres, emang banyak perkantoran juga di sekitar situ, jadi jam makan siang pas hari kerja beneran rame!

      Iyaa, alhamdulillah makin banyak aja makanan halal di Tokyo, apalagi klo target pasarnya gak cuman muslim gini (orang lokal juga pada ikutan beli), jadi gak berisiko tutup kayak yang pernah kejadian sama beberapa restoran halal yang gak terlalu rame pembeli 😦

      • Sekitar minggu pertama november berencana ke wakayama, pres, mau hiking ke kumano kodo kayaknya 😀
        Presyl ada rencana ke jepang nov/des ini?

      • Kemaren aku niat iseng mba kesana, tp sendirian (tiket ANA promo lagi!), hahaha, mau ngikut mba novri jalan jalan aja rencanany 🙈🙈 tp pas pemesanan butuh data paspor, tapi pasporku belum jadi, huhuhu ga bisa pesen

      • Waaa, sayang bangeeet :O

        ANA sering promo gitu ya pres dari Indonesia? Kenapalah yang berangkat dari Tokyo harganya standar2 aja yaaa T_T

        Semoga nantik pas paspornya udah jadi pas ada promo lagi ya pres, jadi bisa cus berangkat! aamiin..

    • Malem dia udah sold out Fan, adek ke sana jam makan siang, Fanny gak bisa bukan? Mesti ngantri juga soalnya

  2. Pingback: Flashback 2017 | Tukang Makan - Tukang Jalan・食いしん坊・タビ好き·

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s