Visiting Shosenkyo before It Becomes too Mainstream!

Kunjungan ke Shosenkyo ini bermula saat sekitar dua tahun lalu saya sempat beberapa kali dihubungi teman, kenalan, atau kenalannya teman, yang menanyakan informasi detil tentang koridor salju di Tateyama Kurobe Alpine Route. Saat orang ketiga (apa keempat ya?) menghubungi saya untuk bertanya hal serupa, saya jadi penasaran “kenapa banyak banget orang yang jadi pengen ke Tateyama Kurobe Alpine Route ini yak?”. Usut punya usut, konon kabarnya ada beberapa travel blogger Indonesia yang memuat postingan di blognya atau sharing di berbagai acara yang ditayangkan di nusantara, tentang perjalanan mereka ke Tateyama Kurobe Alpine Route, lokasi-wisata-yang-tetap-bersalju-di-musim-semi ini. Dan tentunya lengkap dengan foto-foto cakep di koridor salju yang terkenal itu!

Tingginya antusias wisatawan dari Indonesia akan keberadaan Tateyama Kurobe Alpine Route ini sudah saya rasakan sendiri saat musim gugur tahun lalu saya sempat mendengar pengumuman dalam BAHASA INDONESIA di salah satu terminal di Tateyama Kurobe Alpine Route. Kalau tidak salah waktu itu isi pengumumannya meminta rombongan tur untuk segera berkumpul! *rame banget pasti ya peserta rombongannya sampe dibolehin diumumin lewat pengaras suara gitu! Berasa lagi di terminal di kampung halaman tercinta waktu itu, hehe..

Koridor salju yang mengundang banyak pertanyaan 😀

Mengingat besarnya pengaruh para “public figure” di Indonesia berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya ini, maka saat saya membaca postingan dari salah seorang travel blogger Indonesia, yang saya follow lewat dunia maya, memuat cerita tentang perjalanannya ke Shosenkyo, saya sempat ‘panik’ dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan ajakan teman kantor suami untuk melipir ke Shosenkyo demi menikmati warna-warni daun musim gugur di Provinsi Yamanashi ini! *mikirnya waktu itu harus langsung bergegas sebelum tempat ini ramai didatangi wisatawan asing, termasuk saya 😀

Shosenkyo adalah bagian dari Taman Nasional Chichibu Tama Kai yang melingkupi kawasan seluas lebih dari 1.250 kilometer persegi! Salah satu trek hiking di Shosenkyo ini dimulai dari Jembatan Nagatoro ke arah Air Terjun Sengataki yang berjarak sekitar 4 km dengan trek yang cukup bersahabat. Di sepanjang perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan sungai dan beberapa jembatan kecilnya, pohon-pohon yang hijau di musim panas dan berubah warna-warni di musim gugur, dan juga bebatuan-bebatuan dengan bentuk unik yang menjadi daya tarik khas kawasan ngarai ini.

Rute trekking di Shosenkyo *foto dari sini


Saya dan beberapa peserta “tur” hari itu langsung buru2 jepret sana sini demi mengejar waktu 😀


Kakuenbo, salah satu bebatuan yang bentuknya unik dan jadi ciri khas Shosenkyo

Berhubung Shosenkyo mencakup kawasan dengan perbedaan ketinggian dengan range cukup besar, dedaunan musim gugur di sini berubah warna dalam rentang waktu lebih dari satu bulan, yaitu pada sekitar pertengahan Oktober hingga akhir November! Sayangnya dalam perjalanan musim gugur tahun lalu, saya sudah terlanjur terjebak macet karena siangnya saya mampir dulu ke momiji tunnel yang tersohor di Kawaguchiko (salah satu danau dekat Gunung Fuji –red). Walhasil, kami baru berhasil mendarat di Shosenkyo sekitar pukul 4 sore dan hanya sempat menikmati pemandangan Kakuenbo di salah satu pemberhentian mobil, dan langsung menuju Shosenkyo ropeway saja dengan menggunakan mobil (tiket PP Shosenkyo ropeway ini kalau tidak salah 1.200 yen). Daaaan pemandangan dari puncak Shosenkyo yang menghadap ke arah Nosen Lake atau Arakawa Dam ini keren banget, sodara-sodara! Ada untungnya juga saya tiba sore hari, jadi sinar matahari pun terasa lebih lembut *menghibur diri 😀

Pemandangan dari dalam ropeway *photo credit: Mark 😀


*mendaki dikit


Mendarat di puncak Shosenkyo mepet2 sebelum matahari terbenam

 

Foto ala-ala 😀


Bisa keliatan Gunung Fuji juga dari puncak Shosenkyo ini!

Walaupun saya tak menyesal meski harus terjebak macet dan cuma bisa menikmati pemandangan dari puncak Shosenkyo ‘saja’, tapi rasanya sakit hati juga melihat foto-foto autumn report dari Japan Guide ini! Yah, anggaplah ini kesempatan survei untuk merencanakan kunjungan berikutnya, kali ini harus dengan persiapan yang lebih matang!

Cakep yaa pemandangan dinding batu dengan warna merah kuning hijau giniii *foto dari Japan Guide


Sungainya cem di Indonesia jugaa, beda di daun merahnya aja 😀 *foto dari Japan Guide


Rute trekking yang cukup bersahabat! *foto dari Japan Guide

Kebetulan, selama lima hari sejak 19 November 2016 (saya melipir ke Shosenkyo ini sehari setelahnya -red), sedang diadakan lightup momiji sampai ke sekitar Air Terjun Sengataki. Jadi walaupun kami hanya sempat menikmati pemandangan di Shosenkyo sekitar 1 jam sebelum matahari terbenam, tapi kami jadi tak perlu menunggu lama sampai lightup dimulai. Selain lightup, sebenarnya ada juga penampilan live dari beberapa seniman tradisional yang pastinya menarik terutama bagi mereka yang menyukai kebudayaan Jepang. Tapi kami cuma bisa menikmati sambil lewat saja karena cuaca yang cukup dingin!

Detail lokasi lightup *foto dari sini


Ada beberapa spot untuk pengunjung yang mau foto2 dengan latar lightup di bambu


*agak2 serem-serem gimanaa gitu 😀

Shosenkyo juga bisa diakses dengan transportasi umum dari Shinjuku ke stasiun terdekat Stasiun Kofu (JR East Chuo Main Line, JR Central Minobu Line) dengan waktu perjalanan sekitar 90 menit, dilanjutkan dengan menumpang bus selama 30-50 menit, tergantung dari titik mana kita ingin memulai hiking.

Tertarik memasukkan Shosenkyo ke dalam itinerary liburan musim gugur kamu ke Jepang? *tapi saya sendiri masih berharap smoga belum terlalu rame wisawatan asing dulu deh taun ini 😀

Advertisements

5 responses to “Visiting Shosenkyo before It Becomes too Mainstream!

  1. Mbaaakkkk….
    Ini tsakepnya baru di bulan November ya?
    Kl bulan Oktober yang bs dpt view momoji keceh dimana ya?
    Akuuuhhh galau…
    Blm bikin itinerary!
    Hix…

    • Si Shosenkyo ini kata website nya sih dari Oktober ada yang udah memerah juga, tapi mungkin belum peaknya kali ya.. Klo Oktober biar lebih yaqqin dapet yang cakep kayaknya mesti ke arah yang agak pegunungan gitu Vik, ato gak ke bagian utara Jepang.
      Atau ada beberapa pilihan juga sih daerah pegunungan yang 1-2 jam dari Tokyo.
      Eh tapi jadi ke Hokkaido, Vik? Mestinya Hokkaido udah peak nya sih akhir September sampe awal Oktober gitu

      • Iyah, insyaallah jalan ke Hokkaido, Mbak. Tapi itinerarynya belum kesentuh sama sekali. Mau cari yang pegunungan-pegunungan tapi aksesnya kok agak susah ya soalnya aku solo traveling. Jadinya maju mundur (gak cantik).. 😁

      • Iyaaa, itu Hokkaido kurang praktis emang transportasi umumnya -_-
        Ato gak coba cari paket tur gitu juga bisa kali ya vik, yg udah include transportasi

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s