Hokkaido’s Roadtrip (後編)

Kisah bagian pertama bisa dibaca di sini *cuman di postingan sebelumnya padahal 😀

Hari ke-4

Setelah terlalu ambisius menempuh perjalanan ratusan kilometer di beberapa hari sebelumnya, akhirnya di hari keempat ini saya bisa lebih santai menikmati waktu dan puas jalan-jalan di sekitaran Biei dan Furano. Pagi itu saya dan suami sarapan enak di depan tenda, sambil sempat sedikit panik karena didatangi hitsuji-tachi (para domba -red) yang sepertinya sedang jalan pagi 😀

Kami baru berangkat dari camping ground setelah agak siangan dan sebelumnya sempat melas-melas minta pengecualian ke pengelola tempat camping supaya boleh menggunakam shower room yang sebenarnya hanya dioperasikan di malam hari saja! *saya masih belum bisa menyesuaikan diri sama kebiasaan orang Jepang yang kebanyakan gak mandi pagi 😀

IMG_9282-2

Didatangi dombaaaaa

Hoshioka camping ground. Akhirnya cuaca hari itu cerah!

Hoshioka camping ground. Akhirnya cuaca hari itu cerah!

Sebagai informasi tambahan, konon katanya Jingisukan (Genghis Khan) di Hitsuji no oka –di kompleks yang sama dan di bawah pengelolaan yang sama dengan Hoshioka camping ground– ini enak banget! Sampai-sampai katanya pernah masuk di Michelin Guide tahun 2012, loh! Jingisukan ini adalah makanan khas Hokkkaido di mana daging kambing atau domba disajikan dalam lembaran tipis dan dimasak di panci melengkung seperti topi yang bagian tengahnya lebih tinggi untuk tempat memanggang daging. Sayangnya daging yang digunakan bukanlah daging halal (kayaknya sih domba-domba yang diternak di sanalah yang mereka sembelih dan diolah di dapur :D), jadi kami tak bisa mencicipi menu khas di camping ground ini, hiks.. *dan begitu saya browsing Jingisukan dalam bahasa Indonesia, yang nongol langsung halaman “Ayo Masak Makanan Jepang”  nya NHK euy! Kapan-kapan coba bikin apa ya *sekalian promosi NHK siaran Bahasa Indonesia 😀

Kembali ke rute jalan-jalan hari itu. Target saya adalah melipir sebentar ke Aoiike (The Blue Pond), mendatangi Shikisai no oka yang tersohor dengan ladang bunganya yang luas dan penuh warna itu, nekat parkir sebentar di pinggir jalan raya demi foto-foto di rollercoaster road, lewat di sekitaran philosophy tree yang ternyata aksesnya banyak yang dibatasi untuk wisatawan karena di sana itu adalah lahan milik pribadi, dan diakhiri dengan makan es krim melon di Farm Tomita. Biei dan Furano ini cakep banget deh pokoknya!

Aoiike-2

The Blue Pond

 

Shikisai no oka-2

Si bapak asik bener di situ sendirian 😀

IMG_9298-2

The philosophy tree yang kabarnya sekarang udah ditebang, hiks..

DSC_0068-2

The roller coaster road

IMG_9346-2

Meloooon, at Farm Tomita

Sore menjelang malam, saya masih dilema antara apakah tetap nekat camping dan menunggu subuh lalu berangkat ke Tomamu, atau mengikhlaskan saja rencana berburu unkai (aka sea of cloud) itu dan langsung berangkat ke Sapporo saja. Pasalnya persentase munculnya unkai –yang diposting setiap jam tiga sore di situs Tomamu Resort– untuk keesokan harinya, cuma sekitar 50%! Saya takut bakal patah hati kalau gagal dan cuma dapat “capeknya doang”, huuu…

Sore itu saya dan suami sudah setengah hati browsing sana-sini mencoba menentukan pilihan camping ground di sekitar Otaru untuk option bermalam di hari ke-4 ini. Tapi setelah menimbang berbagai hal dengan seksama, terutama karena entah kapan lagi saya bakal bisa roadtrip ke Hokkaido, akhirnya diputuskan untuk tetap menjalankan rencana menuju Hoshino Tomamu Resort!

Tentunya saya tak menginap di resort yang mahalnya minta ampun itu! *bisa bangkruuuut, sodara-sodara! Nah, berhubung sepanjang perjalanan mengikuti Google map dari Furano ke Tomamu ini saya dan suami beberapa kali melewati michi no eki (semacam rest area untuk jalan raya nasional), akhirnya kami memutuskan untuk bermalam –beberapa jam sambil menunggu subuh– di dalam mobil saja, di area parkiran michi no eki. Saya dan suami memilih nekat tidur di mobil setelah memperhitungkan waktu yang kurang memungkinkan kalau kita memutuskan untuk tetap camping seperti rencana awal, karena jarak dari Kanayama camping ground adalah sekitar 40 menit ke Hoshino Tomamu Resort ditambah waktu yang dibutuhkan untuk membongkar tenda, sedangkan michi no eki terdekat tempat kami bermalam hari itu berjarak sekitar 25 menit dari Tomamu Resort! *sekalian bisa hemat juga kaan kalo tidur di mobil saja 😀

Kursi belakang mobil buat tidur

Kursi belakang mobil yang disusun ke satu sisi supaya bisa dipake buat tidur, tidurnya gantian sama di kursi depan 😀

Michi no eki di Jepang sendiri menurut saya banyak yang memiliki fasilitas sangat lengkap dan terjaga kebersihannya. Situs michi no eki di Hokkaido atau di seluruh Jepang, menyediakan informasi fasilitas apa saja yang ada di masing-masing michi no eki, entah itu shower room, pom bensin, ATM, restoran, toko oleh-oleh khas setempat, atau fasilitas-fasilitas lain yang selain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, juga didesain untuk mempromosikan produk daerah itu.

Screen Shot 2016-06-02 at 12.48.07 PM

Michi no eki yang tersebar di seluruh Jepang!

Waktu saya dan suami menginap di michi no eki ini, ada sekitar 7-8 mobil yang juga melakukan hal sama. Tampaknya ini sudah jadi hal yang cukup lumrah karena waktu itu bahkan saya melihat beberapa mobil yang menyiapkan matras untuk tempat tidur di bagian belakang mobilnya! Ada juga pasangan kakek-nenek yang mengemudi mobil cukup besar (semaca Toyota HiAce) yang parkir di sebelah kami dan waktu si kakek pindah ke bagian belakang mobil, kelihatanlah “tempat tidur” yang lengkap dengan bantal, selimut dan tentunya gorden untuk jendela mobilnya! *hmmm, tampaknya ini bisa jadi pilihan saya untuk versi lebih murah jalan-jalan keliling Jepang naik mobil caravan 😀 Btw, bahkan ada juga lho yang nekat mendirikan tenda di michi no eki ini! Saya kurang tahu persis apakah memang diperbolehkan mendirikan tenda di area parkiran michi no eki, tapi memang ada juga beberapa michi no eki yang menyediakan camping ground khusus, bukan di area parkirannya!

Michi no eki di Minami Furano-3

Salah satu mobil yang bediriin tenda di michi no eki

*duh, jadi kepanjangan cerita michi no eki 😀

Kembali ke Hoshino Tomamu Resort, setelah saya dan suami gantian tidur-tidur ayam di dalam mobil, sekitar jam 4 subuh keesokan paginya kami pun berangkat menuju Tomamu!

Hari ke-5

Dengan muka kucel dan masih sambil menahan kantuk setelah hanya tidur beberapa jam gantian di michi no eki, saya dan suami berangkat naik ke Gunung Tomamu (menumpang gondola tentu saja) sampai ke ketinggian sekitar 1000 mdpl. Dan alhamdulillah, ternyata hari itu saya sedang bernasib baik, di sekitar pintu masuk jalur gondola ditempel foto dan pengumuman bahwasanya fenomena unkai positif muncul pagi itu!

IMG_9369-2

Dari gondola pun udah keliataan unkai nyaaa

The view from Unkai Terrace

The Unkai Terrace

Di tengah cuaca yang lumayan dingin, saya dan suami sempat hiking sedikit ke arah gunung (walaupun tak sampai ke puncak) di mana tak terlalu banyak orang seperti di bagian terrace yang memang disiapkan untuk para wisatawan di dekat pemberhentian gondola. Lumayanlah jadi (seolah-olah) bisa merasakan sensasi para pendaki gunung seperti di foto-foto yang banyak bertebaran di medsos itu 😀

Ala-ala pendaki gunung gitu deeeh :D

Foto ala-ala pendaki gunung gitu deeeh 😀

Lepas berlelah-lelah sedikit di Tomamu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat pemberhentian roaditrip kali ini, yaitu Sapporo. Dengan sisa-sisa energi yang masih ada, saya dan suami mampir sebentar di Moerenuma Park dan menyewa sepeda untuk berkeliling taman yang luas pake banget ini! Taman berdesain modern dan unik karya seniman kenamaan Isamu Noguchi ini dulunya adalah tempat penimbunan sampah, lho! Taman ini punya daya tarik tersendiri di tiap musimnya, dan di sini juga tersedia banyak fasilitas yang bisa dinikmati semua usia. Dan yang paling penting adalah tiket masuknya gratis, dong!

11903787_10153552935317020_9028022272930661443_n

Pemberhentian pertama di Moerenuma Park: Glass Pyramid, Hidamari

IMG_9460-2

Cem wallpaper windows gitu gak sih? 😀

IMG_9474-2

Hijau di mana-manaaa… Dan kalau musim dingin ya ini ditutupi saljuuu

Setelah bersantai sejenak di Moerenuma park sambil menikmati softcream yang tentunya adalah salah satu jajanan favorit saya selama di Hokkaido (karena menurut saya rasa susunya paling enak dibandingkan softcream di kawasan Jepang lainnya), saya dan suami berangkat menuju hotel setelah bersakit-sakit (badan) tidur di tenda selama empat hari terakhir 😀

Belum masuk waktu check-in saat saya dan suami tiba di Hokkaido Daiichi Hotel Sapporo. Suami sudah makin rewel setelah berhari-hari tersiksa capek dibawa jalan ke sana-sini, sementara saya masih mau melanjutkan perjalanan ke tujuan terakhir hari itu (sebelum makan yakiniku), ke Otaru. Setelah duduk-duduk sebentar di lobi hotel, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat ke Otaru, tapi naik kereta saja dan mobil sewaan ditinggal di parkiran hotel (sudah included di paket yang saya pesan waktu booking si hotel).

Entah karena badan yang sudah remuk redam gara-gara roadtrip ambisius beberapa hari terakhir, atau entah karena memang saya orangnya tak romantis, atau mungkin karena memang Otaru itu cakepnya kalau diselimuti salju di musim dingin, sejujurnya saya tak merasa terlalu terkesan di kunjungan kami ke Otaru sore itu. *mungkin pertanda kali ya supaya datang lagi pas musim dingin dan jangan capek-capek banget gitu sebelum ke Otaru nya 😀

DSC_0115-2

Biar berasa kayak di Venezia gitu kali yaa 😀

DSC_0119 2-2

One of the famous spot in Otaru

Tapi saya tetap foto-foto dan jajan oleh-oleh dong sebelum kemudian memutuskan untuk kembali ke Sapporo saja dan mengikhlaskan pemandangan malam hari di Otaru yang katanya juga cakep banget itu! Sebagai tukang makan dan pecinta daging sejati, ternyata saya tak bisa memungkiri kenyataan bahwa yakiniku halal di Yakiniku Kou lebih menggoda daripada kerlap-kerlip lampu-lampu di Otaru *tehe!

IMG_9516

Nom nom nom 😀

Setelah mengisi perut sampai kenyang dengan makanan enak yang halalan thayiban, perjalanan hari terakhir ditutup dengan packing segala macam perkakas yang berantakan di dalam mobil dan akhirnya bisa membaringkan badan di atas kasur (beneran) di ruangan ber-AC 😀

Hari ke-6

Tak ada yang kami lakukan di hari keenam ini selain tentunya berangkat menuju bandara, mengembalikan mobil sewaan, check-in dan menitipkan bagasi lalu berangkat pulang ke Tokyo. Bagian paragraf ini saya tulis hanya untuk mengiyakan pernyataan suami yang ngotot kalau roadtrip waktu itu berlangsung ENAM hari lamanya! *padahal kan kalau diitung-itung total waktu berada di Hokkaido nya mah gak lebih dari 120 jam 😀

Overall, bagi saya sendiri perjalanan kali ini bisa dibilang cukup melelahkan. Ternyata saya memang terlalu ambisius menyusun itinerary, apalagi karena sepanjang perjalanan tak ada yang bisa menggantikan saya menyetir. Yah minimal jadi pelajaran buat rencana roadtrip selanjutnya, either rutenya dibuat tak terlalu ambisius, atau dicari partner-in-crime yang bisa bergantian menyetir demi menghemat waktu dan energi. *ngimpi dulu deh selanjutnya pengen roadtrip keliling Tohoku, smoga bisa kesampaian, aamiin..

IMG_9520-2

Total jarak yang ditempuh selama roadtrip kali ini, 1148.4 km!

Rute ambisius road trip kali ini!

Rencana awal sebelum berangkat, akhirnya ke Otaru naik kereta saja 😀

Latian bediriin tenda

Masih semangat latian bediriin tenda di parkiran apato nya Intan beberapa hari sebelum berangkat 😀

Advertisements

17 responses to “Hokkaido’s Roadtrip (後編)

    • Hihi iya, di Otaru udah kayak cuman “oh gini otaru” 😀 klo sapporo kk karna udah pernah mampir juga sebelumnya jadi emang diniatin ke moerenuma park doang sama yakinikuan 😀

  1. Cocok banget dah si adek jadi guide tour jepang. Oiya, beberapa istilah jepang dan ga ada penjelasannya itu apa kadang bikin bingung aku yg baca dek (aku doaaaang mgkn yg lain kagak, hehehe).

    Baca paragraf terakhir langsung kaget, sejauh perjalanan itu ternyata nyetir sendiri ya dek? Mantaaaap lah adek ni 👍🏻👍🏻👍🏻

    • Hihi, pengen deh Meeel jadi guide, tapi dari beberapa pengalaman selama ini klo nemenin turis dari Indonesia, beberapa kali rada “makan ati” gara2 rada “culture shock” juga gitu, tapi ya seringnya dianggap cobaan saja dan jadi pelajaran 😀
      Ayuuk Mel main ke Jepang, insyaAllah adek siap jadi guide ntar 🙂
      Iyaa, suami adek gak bisa nyetir Mel, jadi sendirianlah itu nyetirnyaaa, sampe pegel2 juga badan 😀

    • Oiyaaa, ada istilah Jepang yang gak adek tulisin artinya kayaknyaa, kebiasaan ni kayaknya. Ntar dibenerin deh klo gitu, makasih Mel udah dikasih tau 🙂

  2. Mantaap banget ini mba roadtripnya, beda emang pejalan jalan.beneran sama pejalan jalan santai (macem aku gini), hahaha. Itu jauuh aja ya nyetir sendiriannya, dan tetep semua disempetin buat dikunjungin, kayaknya klo aki jd suaminy mba tinggal nunggu diseretnya aja sih pas udah kecapean, huehehe

    • Huuu, tapi kayaknya mbak udah gak sanggup lagi ni Prees terlalu ambisius kayak gini. Udah berasa makin tuanya 😀 Kemaren pas jalan-jalan ke Taiwan mbak jadinya gak terlalu ngikutin target awal dan jalannya jadi santai aja. Balik hostel pun gak sampe malem banget dan tidur cukup, gak kayak dulu yang ngerasa mesti memaksimalkan waktu klo lagi jalan ke luar 😀

  3. Ngeliat postingan mbak Adek jd suka nyesel, kenapa selama dulu tinggal di Sapporo jarang berpetualang haha mgkn emang belum rejeki
    Tapi yg paling dikangenin salju yg numpuk dan summer yang pendek

    • Duuh, sayang banget ya Fenda, padahal mestinya bisa dimaksimalkan yaaa keliling Hokkaido, hehe..
      Smoga bisa balik lagi buat jalan2 yaa Fenda 🙂

      • Iya mbak hehe baru suka jalan-jalan setahun belakangan ini
        Aplg liat mba Adek bikin bucket list jd ikutan deh bikin, seneng ketika bucket list ada yg tercentang 😁😁

    • Iya, capek banget terlalu ambisius kayaknya, hehe..
      Softcream nya Hokkaido enak banget sih yaaa

  4. Mba Novriana, boleh saya tau utk di hokkaido sewa mobil dimana? Dan mengunakan SIM apa?
    Karena sy searching.. Info nya kita tdk bisa mengunakan IDP konvensi 1968.. Pls advise..

    Thanks
    Yuli

    • Halo, Yuli.
      Untuk sewa mobil di Jepang ada banyak pilihan, ada dari Toyota, Nissan, Nippon rent-a-car, ada juga yang di setiap stasiun. Tapi memang SIM internasional Indonesia gak berlaku di Jepang. Saya sendiri memang sengaja mentransfer SIM Indonesia ke SIM Jepang. Jadi mungkin kalau untuk kunjungan jalan-jalan saja agak susah ya 😦

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s