Semalam di Istanbul :)

Satu malam (dua hari) ternyata benar-benar tak cukup untuk menjelajah salah satu kota idaman yang sejak beberapa tahun lalu sangat ingin saya kunjungi ini! Dari dua kali kunjungan –yang dua-duanya hanya berdurasi satu malam saja– itu, saya pribadi menyimpulkan bahwa butuh waktu minimal satu minggu untuk bisa berleha-leha menikmati ritme kehidupan sehari-hari di Istanbul. Sekali lagi, ini hanyalah pendapat pribadi belaka (yang diiyakan juga oleh beberapa teman saya :D). Tapi apa hendak di kata, jatah libur yang terbatas waktu sesi “kabur” di tengah-tengah deadline thesis awal tahun baru kemarin ini membuat kita tak bisa berlama-lama di Istanbul.

Jadi, ke mana saja saya, atau lebih tepatnya kami, selama “semalam” di Istanbul?

Day 1

Ayasofia – Blue Mosque – Topkapi Palace – dan Galata Tower (yang terpaksa dicoret dari itinerary karena keterbatasan kekuatan fisik :D)

Mendarat di Istanbul sekitar jam 8 pagi, saya dan dua teman langsung bagi-bagi tugas untuk antri tiket masuk Ayasofia dan check-in hotel. Sebelum berangkat ke Turki sebenarnya saya sudah mengumpulkan berbagai informasi untuk mendapatkan  Museum Pass atau minimal electronic ticket untuk ke Ayasofia. Pasalnya, sekitar dua tahun lalu saya terpaksa merelakan kunjungan ke Ayasofia karena antrian tiket masuk yang sangat panjang, karena saya waktu itu di-guide teman dari Turki bersama keluarganya (jadi kan gak enak klo mesti ngantri lama begitu). Namun apa daya, dari situs Museum Pass dan situs Ayasofia sendiri, entah kenapa ada kolom alamat Istanbul yang harus diisi untuk memesan si tiket. Sepertinya kolom ini bisa diisi dengan alamat hotel tempat tinggal kita, tapi berhubung saya dan teman-teman langsung cabut ke Kapadokya di hari pertama mendarat dan baru ke Istanbul di dua hari terakhir, akhirnya kami batal memesan tiket lewat internet dan nekat beli tiket di hari H saja. *masih gagal paham kenapa electronic ticket pun mesti ngisi kolom alamat yak, waktu saya tanya ke salah satu temen yang pernah pesen electronic ticket katanya ticket nya diimelin kok, tapi mungkin sistemnya udah berubah kali ya*

Antrian panjang Ayasofia waktu saya sempat mampir ke Istanbul Maret 2013 lalu

Antrian panjang Ayasofia waktu saya sempat mampir ke Istanbul Maret 2013 lalu

To Ayasofia

To the Ayasofiaaa!!!

Berhubung jadwal yang telah disusun dengan padat untuk rute hari itu, kami tak bisa bersantai-santai dan sebisa mungkin berkeliling Ayasofia dalam waktu seminimal mungkin. Tapi tetep puas kok foto-foto dan melihat-melihat sudut-sudut penting di museum cakep yang dulunya adalah Mesjid dan sebelumnya adalah Gereja ini. Lagi-lagi saya sukses terpesona dengan pahatan dan ukiran yang super detiiiil di dinding dan langit-langitnya, beberapa makam keluarga khalifah Utsmaniyah yang unik, dan banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang tak boleh dilewatkan.

Imperial gate

Emperor’s gate

DSCF3532-2

Main part of the Ayasofia (I guess :D) *ini di atas bagian mimbar gitu kalo gak salah*

Puas berkeliling di Ayasofia, kami pun langsung menyeberang ke arah Blue Mosque –yang hanya berjarak 100 meter saja– dengan taman yang dilengkapi air mancur besar di antara kedua bangunan megah ini. *duuh, ngaso di sini sambil baca novel enak kali ya 😀

Fountain + Blue Mosque

Air mancur sedang tenang dengan latar Blue Mosque

The twin

The same fountain with the cute twin girls of my Turkish friend who took me around Istanbul on 2013 🙂

Bench+fountain+blue mosque

Bench and fountain and Blue Mosque

Sayangnya di kunjungan kali ini pun lagi-lagi saya sedang tidak bisa shalat di mesjid megah ini. Mungkin ini pertanda supaya saya berkunjung lagi, aamiiin!!

Blue Mosque

The Blue Mosque

Gerbang Blue Mosque

Pintu masuk Blue Mosque yang megah itu

Cakepnya Blue Mosque

Salah satu sudut langit-langit Blue Mosque

Berhubung pagi itu kami sudah isi bensin sampai penuh (alias makan besar di Efendi Hotel), setelah teman saya selesai shalat di Blue Mosque, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Topkapi Palace dan men-skip makan siang. Hujan mulai turun selama perjalanan sekitar 15 menit dari Blue Mosque.

To the Topkapi Palace

To the Topkapi Palace

Kompleks museum yang luas ini dulunya merupakan pusat administrasi, pemerintahan dan seni selama 400 tahun dari masa Kekhalifan Utsmaniyah sebelum kemudian fungsi-fungsi itu dipindahkan ke Dolmabahce Palace di abad ke-19. Berhubung ada empat courtyard dan Harem section di dalam kompleks Topkapi Palace ini, dan karena beberapa ruangan yang juga sedang ditutup karena renovasi -serta pastinya karena keterbatasan waktu-, kami hanya sempat mengunjungi beberapa tempat saja. Section pertama yang kami masuki adalah bagian Palace Kitchen di mana kita bisa melihat-lihat koleksi peralatan makan dan masak-memasak di masa kesultanan yang disusun berurutan dari awal masa pemerintahan kekhalifan Ustmaniyah. Di sini juga digambarkan budaya kuliner zaman dulu dari para Sultan saat mereka mengadakan perayaan maupun menyambut tamu asing. Yang paling menarik buat saya adalah ruangan (kalau tidak salah The Pavilion of the Holy Mantle) di mana dipajang beberapa benda seperti jubah dan pedang yang diyakini merupakan kepunyaan Nabi Muhammad SAW serta para sahabat di zamannya, termasuk di antaranya adalah jubah Fatimah (ra) yang sempat membuat saya merinding karena membayangkan tinggi badan dan postur tubuh beliau! Ada juga ruangan untuk khitanmarble terrace, dan sebuah paviliun yang biasa digunakan sebagai tempat berbuka puasa yang menghadap Golden Horn. Dari Iftaree Pavilion ini, kita tinggal jalan sedikit untuk menemukan spot untuk melihat Jembatan Bosphorus, Golden Horn, dan Galata Tower. Dan pastinya beberapa lokasi yang saya sebutkan ini hanyalah segelintir dari begitu banyak gedung atau ruangan bahkan taman yang ada di kompleks Topkapi Palace. Alokasikanlah waktu cukup banyak di sini, jangan tergesa-gesa seperti kami, huuu..

Antrian ke salah satu ruangan exhibition yang salah satunya memajang jubah Fatimah

Antrian ke The Pavilion of the Holy Mantle yang diantaranya memajang jubah Fatimah

Bagian utama dari Iftaree Pavilion. Notice Galata Tower back there?

Bagian utama dari Iftaree Pavilion. Notice Galata Tower?

Bunga di Topkapi Palace

Salah satu sudut taman di Topkapi Palace saat saya berkunjung Maret 2013 lalu

Setelah keluar dari kompleks Topkapi Palace sekitar jam 5 sore, kami memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran di pinggir jalan sepanjang pulang dari Topkapi Palace demi mengisi perut yang mulai keroncongan. Makan malam enak –yang lumayan mahal itu– menutup perjalanan saya dan Afwa di hari pertama kami. Sebenarnya itinerary awal kami sore itu adalah melanjutkan perjalanan ke Galata Tower dan menikmati Saba sandwich di pinggiran Galata Bridge sambil menikmati senja menuju malam. Tapi apa hendak dikata, karena hujan yang cukup lebat dan badan yang sudah semakin lelah setelah jadwal padat perjalanan empat hari sebelumnya, akhirnya saya dan Afwa menyerah dan memutuskan kembali ke hotel. Cuma Sita yang masih sanggup melanjutkan perburuan selai dan makanan khas Turki lainnya di supermarket lokal yang memang selalu jadi target Sita tiap kali jalan-jalan datte. Maka hari pertama di Istanbul ditutup dengan perut kenyang dan badan encok pegel linu 😀 *untung aja hotelnya nyaman! *bukan promosi berbayar 😀

Lamb sis maknyus tapi mahal :D

Lamb sis maknyus tapi mahal 😀

Day 2

Sirkeci Station – Dolmabahce Palace – Ortakoy Mosque – Taksim Square – Baklava at Karakoy– Grand Bazaar

Entah karena faktor usia, atau karena akumulasi rasa lelah selama perjalanan, di hari kedua kami baru check out dari hotel cukup siang, kalau tidak salah sekitar jam 10 pagi. Semua barang kami titipkan di resepsionis untuk diambil malam harinya sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Tokyo. Berbekalkan kartu serba guna Istanbul kart, kami pun berangkat menumpang city tram menuju stasiun Sirkeci, terminal ujung kereta Orient Express dari Paris, yang juga terkenal lewat novel Agatha Christie itu. Sebenarnya saya sangat ingiiiin mampir ke Istanbul Railway Museum yang berada di dalam stasiun Sirkeci ini. Namun apa daya, stasiun ini tutup di hari kunjungan kami itu (hari Senin). Dan tampaknya stasiunnya juga sedang direnovasi sehingga sebagian dari bangunan stasiun kain penutup konstruksi.

Orient express restaurant

Orient express restaurant

Stasiun Sirkeci

The Sirkeci Station

Di sekitaran stasiun ini kami sempat berbelanja beberapa suvenir di toko yang lokasinya cukup tersembunyi dan bapak penjualnya pun masih baru mulai menata barang dagangannya *kepagian ya kayaknya kita?* Si bapak juga sempat kesal saat salah menebak asal negara kami, padahal katanya sudah ragu-ragu antara “Indonesia” atau “Malaysia” 😀

Dari stasiun Sirkeci kami melanjutkan perjalanan ke Dolmabahce Palace, yang merupakan pusat pemerintahan di akhir-akhir masa kepemimpinan Utsmaniyah, untuk hanya foto-foto saja di gerbang depan karena (lagi-lagi) hari itu Dolmabahce Palace tutup. *jadi penasaran ada apa dengan hari Senin ya di Turki, seingat saya Ayasofia juga tutup hari Senin euy!

Dari Dolmabahce Palace, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan –dengan bus kota– menuju Ortakoy Mosque! Entah kapan dan di mana saya pertama kali melihat foto Mesjid Ortakoy ini pun saya tak ingat, tapi yang jelas mesjid ini sudah langsung masuk dalam daftar tempat yang harus dikunjungi karena suasana sekitarnya yang terlihat nyaman dan menenangkan dengan pemandangan jembatan Bosphorus sebagai latar.

Gerbang Dolmabahce Palace

Gerbang Dolmabahce Palace

Ortakoy Mosque dengan latar Jembatan Bosphorus

Ortakoy Mosque dengan latar Jembatan Bosphorus

Lepas berleha-leha sebentar di bench sambil menikmati angin semilir (baca: dingin) di pinggir selat Bosphorus ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Taksim Square, demi foto-foto dengan latar The Republic Monument dan classic tram yang beroperasi sepanjang Istiklal Street yang konon kabarnya adalah salah satu dari shopping street tersibuk di Eropa. Sempat terjadi “accident” juga karena saya dengan pede-nya menyarankan untuk jalan kaki saja dari stasiun Kabataș sampai ke Taksim square, karena menurut Google Map jaraknya “cuma” 15 menit dengan jalan kaki, yang ternyataaa penuh tangga dan tanjakan dan sukses bikin satu rombongan kehabisan energi. Sepertinya anjuran Sita untuk menggunakan kereta Funicular (cliff railway) yang memang disiapkan untuk “mendaki” tanjakan mematikan dari stasiun Kabataș itu adalah solusi terbaik >_<

Taksim Square

Berlatarkan The Republic Monument

That classic tram at Taksim

That classic tram at Taksim

Di daerah Taksim ini kami juga menyempatkan diri mencari kantor pos untuk mengirim kartu pos untuk beberapa teman (dan diri sendiri) setelah bertanya dengan bahasa tarzan ke orang-orang di sana 😀 *seru deh pokoknya jalan sambil ragu-ragu ke arah yang ditunjukkan penduduk sana gara-gara takut pertanyaan kita tak tersampaikan dengan benar*

Target kami berikutnya hari itu adalah sebuah toko Baklava di kawasan Karakoy yang konon sudah berdiri sejak hampir 200 tahun lalu! Sebagai pecinta kudapan manis –khususnya baklava– perjalanan di Turki ini juga kami jadikan ajang pencarian Baklava terenak di dunia *mengambil istilah Afwa*, dan kemudian kami pun pesta baklava di sini *walopun ternyata baklavanya malah tak terlalu cocok dengan selera kita karena rasa mentega dari susu kambing (?) nya yang kenceng banget itu!

Pesta Baklavaaaaaa :)

Pesta Baklavaaaaaa 🙂

Hari sudah semakin sore dan kami masih punya satu tempat lagi yang harus dituju, Grand Bazaar! Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di postingan tentang kejadian “hampir kena tipu di Grand Bazaar”, jalan-jalan kali ini benar-benar tidak ditujukan untuk belanja! Maklumlah, masing-masing dari kami hanya membawa backpack berukuran sekitar 40L untuk perjalanan selama satu minggu. Jadi kapasitas bawaan amat sangat tidak kondusif untuk ditambah dengan printilan oleh-oleh dan lain sebagainya. Tapi ternyata akhirnya kami kalap juga begitu tiba di toko oleh-oleh makanan “Tugba” dan gagal menahan diri dari godaan berbagai Turkish delight dan coklat enaak di sana >_<

Dengan tentengan yang makin berat dan badan yang makin lelah, kami pun memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum mengambil barang-barang di hotel. Berhubung saya masih penasaran dengan Saba sandwich yang gagal dicicipi hari sebelumnya, kami pun mencoba mencari “warung” di sekitar Grand Bazaar yang siapa tahu menawarkan menu Saba sandwich. Namun ternyata kami belum beruntung, kebanyakan restoran hanya menyajikan daging sebagai menu utama mereka sampai akhirnya ada seorang penjaga restoran (yang sedang membagikan brosur di depan restorannya) yang dengan baik hati memberitahu salah satu gang di mana ada warung yang menyajikan menu ikan. Dan walaupun ternyata menu Saba sandwich tidak ada di “warung ikan” di gang itu, mas-mas penjaga warung dengan baik hati menyajikan menu Saba bakar yang diselipkan di dalam roti SAJA! Tanpa sayur atau dressing sama sekali 😀 Tapi yang jelas kami bertiga tetap makan enak dan murah meriah malam itu.

Kesampaian makan Saba sandwich malah di Tsukiji dari hasil pemantauan Afwa di TV :D Gak sama persis sih, tapi menurut yang punya toko roti, mereka bikin menu ini karena terinspirasi Saba sandwich di Turki :)

Kesampaian makan Saba sandwich malah di Tsukiji dari hasil pemantauan Afwa di TV 😀 Gak sama persis sih, tapi menurut yang punya toko roti, mereka bikin menu ini karena terinspirasi Saba sandwich di Turki 🙂

Dan sebelum mengambil barang-barang di hotel untuk berangkat ke bandara mengejar pesawat pulang ke Tokyo dini hari berikutnya, sampai detik-detik terakhir pun kami masih menyempatkan diri membeli beberapa kotak baklava untuk oleh-oleh handai taulan di Tokyo (dan konsumsi pribadi tentunya).

Barang bawaan yang sudah beranak pinak yang diangkut sambil tergesa-gesa di bandara Istanbul :D *photo courtesy of Afwa*

Barang bawaan yang sudah beranak pinak yang diangkut sambil tergesa-gesa di bandara Istanbul 😀 *photo courtesy of Afwa*

Saya, Afwa dan Sita, sepakat untuk sama-sama berharap (dan berdoa) semoga bisa mengunjungi Turki lagi suatu saat nanti dengan lebih leluasa (dari segi waktu maupun budget :D) demi supaya bisa lebih santai dan mengunjungi tempat-tempat yang masih belum sempat disinggahi atau pun tempat yang mau diulang kunjungannya dalam perjalanan awal tahun kemarin. Semoga bisa kesampaian, aamiiin…

View dari ferry di selat Bosphorus waktu saya berkunjung ke Istanbul taun 2013 lalu, kemaren belum kesampaian yang ini ya Siiit?

View dari ferry di selat Bosphorus waktu saya berkunjung ke Istanbul taun 2013 lalu, kemaren belum kesampaian yang ini ya Siiit?

Advertisements

8 responses to “Semalam di Istanbul :)

  1. Salah satu bucket list-ku adalah pergi ke Turki, terutama melihat jejak sejarah Islam dan naik balon udara di Cappadocia..makasih mbak untuk postingannya..menginspirasi saya untuk pergi ke sana juga ;D
    Tadi pagi saat sahur nonton salah satu program TV yang menyiarkan tentang sejarah Islam di Cordoba..duh jadi pengen ke sana juga 😀 *Ita banyak maunya*

    • Iya niih, mbak juga pengen banget naik balon udara di Cappadocia, belum berjodoh tapi kemaren, mungkin mesti pergi lagi, aamiin 😀
      Makasih kembali Itaa, smoga bisa kesampaian yaaa mencoret Turki dan balon udara di Cappadocia dari bucket list nyaa, dan Codroba juga 🙂

  2. Sejak tinggal disini, aku malah gak pengen ke turki, karena turki imigran terbanyak di Jerman. Masjid turki yang besar pun di kota mana aja di Jerman tidak berbeda jauh interiornya dan pastinya cantik 🙂

    Dek, menurut mahasiswa s1 disini klo lagi bulan Ramadhan seperti sekarang, kita bisa makan baklava gratis dan sepuasnya di masjid turki saat berbuka, tau dooong kalo mereka kasih porsi…. buanyaaakkk…

    aku sih baru sekedar dengar cerita hehehehehe….

    • Heee? kenapa jadi gak pengen ke turki mel? turki luas banget ternyata ada banyak spot yang masih pengen adek datengin kemaren cuman dapet libur total 6 hari pas taun baru, huuu…

      Di mesjid turki sini ada buka puasa gratis juga dari mesjid turki, tapi adek belum pernah ke sana dan belum pernah denger cerita temen jadi gak tau ada baklava ato gak nya. Duuuh, klo dapet gratisan porsi gede mah pengen bangeeet…

    • Sebenernya sih sayang sama tiketnya, tapi cuman ada libur pas taun baru dan total cuman bisa “kabur” sekitar 8 hari udah termasuk waktu di pesawat, jadi mesti ikhlas jalan-jalan ekspres karna mau ke kota lain juga selain Istanbul. Smoga nanti kapan-kapan bisa diulang lagi ke Istanbul nya, versi lebih santai gitu 😀

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s