Hampir Kena Tipu di Grand Bazaar

Awalnya direncanakan akan ada empat orang peserta yang ikut serta dalam bakcpacking trip ke ke Turki akhir tahun 2014 kemarin, dan salah satu di antaranya adalah mbak Nunung, yang dikenal sudah sangat berpengalaman dalam urusan belanja-belanji *iya kan mbak?* 😀 Tapi apa hendak dikata, kita selaku mahasiswa hanya bisa berencana, bos besar mbak Nunung juga yang menentukan! Tanpa ada alasan yang masuk akal, beberapa minggu sebelum keberangkatan, beliau dengan seenaknya memutuskan bahwasanya mbak Nunung tak boleh berangkat liburan ke Turki! Walaupun kita pergi dalam masa liburan tahun baru (bolos dua hari sih, tapi cuma dua hari doang koook), walaupun seluruh biaya perjalanan dikeluarkan dari uang pribadi masing-masing dan kami tidak sedang bolos dari conference atau semacamnya, walaupun selama tahun baru itu mbak Nunung tak bakal bisa masuk lab yang ditutup, dan “walaupun-walaupun” lainnya yang sukses bikin kita emosi bahkan sampai sekarang!

Maka berangkatlah kami bertiga saja, para wanita yang tak berpengalaman sama sekali dan paling tak tega kalau harus melakukan tawar-menawar di pasar. Bagi kami, belanja di supermarket dengan label harga yang sudah fix terasa lebih nyaman tanpa harus bersitegang dengan pedagang di pasar *ya gak sampe bersitegang juga kali deeek! Tapi tak ada pilihan lain, kami pun akhirnya memberanikan diri berangkat ke Grand Bazaar, di hari terakhir di Istanbul, di mana proses tawar-menawar itu wajib adanya kalau Anda tak mau mengeluarkan uang berkali lipat dari harga yang seharusnya.

Grand Bazaar sendiri dalam bahasa Turki disebut Kapalıçarşı yang berarti “Covered Bazaar“. Kompleks Grand Bazaar ini terdiri dari lebih 3.000 (ada juga yang bilang 5.000) toko yang menjajakan beragam dagangan khas Turki termasuk pakaian, barang pecah belah, perhiasan, makanan dan minuman sampai berbagai jenis rempah-rempah. Konon kabarnya bangunan inti Grand Bazaar ini dibangun beberapa saat setelah Kesultanan Utsmaniyah menaklukkan Konstantinopel di bawah kepemimpinan Sultan Mehmet II. Kompleks ini terbentang dari Mesjid Beyazit sampai ke Mesjid Nuruosmaniye dan sudah mengalami beberapa kali renovasi setelah melewati bencana alam seperti gempa atau kebakaran. Grand Bazaar bisa diakses dari empat pintu masuk utama dan disebutkan memiliki lebih dari 60 cabang jalan yang sangat berpotensi mengakibatkan pengunjungnya tersasar. Sampai-sampai ada aplikasi khusus bagi para pengguna smartphone (salah satunya ini)! Tapi menurut saya sih lebih cepat bertanya langsung ke orang-orang di sekeliling kali ya daripada mengecek aplikasi di hape 😀

Salah satu gerbang Grand Bazaar yang waktu itu tutup saat saya berkunjung di satu hari Minggu bulan Maret 2013 :D

Salah satu gerbang Grand Bazaar yang waktu itu tutup saat saya berkunjung di satu hari Minggu bulan Maret 2013 😀

Salah satu pintu masuk ke Grand Bazaar

To the Grand Bazaaaaar

Setelah turun di stasiun tram Beyazit-Kapaliçarşi, kami mulai memasuki kompleks Grand Bazaar dengan tekad akan menawar SETENGAH dari harga pertama yang disebutkan penjual, berdasarkan cerita teman-teman yang sudah berpengalaman. Penjual di toko pashmina pertama yang kami hampiri dengan penuh keyakinan menawarkan diskon dan memberikan harga 15 lira saja untuk pashmina yang biasanya ia jajakan seharga 30 lira. Tapi penawaran seperti ini malah membuat kami waswas dan curiga, jangan-jangan bahan pashmina yang ditawarkan memang kualitasnya lebih rendah dibanding yang biasa. *masak iya baru nyampe udah dapet toko yang murah meriah sih?* Masalahnya lagi, kemampuan kami menelaah dan menganalisis kualitas pashmina pun sangat minim adanya. Saya paling tak paham kain seperti apa yang bagus, warna dan motif apa yang menarik dan cocok dijadikan oleh-oleh, bahannya awet atau tidak, ada risiko melarkah setelah dicuci, dll dll. Maka kami putuskan untuk menolak tawaran si bapak penjaga toko dengan sopan sambil mengatakan nanti kami akan kembali lagi ke tokonya.

Kemudian kami pun masuk lebih jauh lagi menjelajah berbagai sudut Grand Bazaar *ceileee gaya bener menjelajah*

Ramai orang berbelanja *halah*

Ramai orang berbelanja *halah*

Bermacam ragam barang dagangan di Grand Bazaar

Bermacam ragam barang dagangan di Grand Bazaar *dooh, itu lampu Turki bikin ngiler ih beneran*

Toko pashmina berikutnya yang kami datangi menawarkan harga (seingat saya) 70 lira untuk jenis pashmina yang konon katanya 50% silk 50% wool (eh, apa 50% cashmere yak? Semacam itulah pokoknya :D). Salah satu teman saya, Afwa, yang ternyata punya bakat terpendam urusan tawar-menawar ini, langsung menguji taktik yang kami pelajari dan meminta harga 30 lira! Mas penjaga toko dengan halus menolak dan meminta kami menaikkan harga sambil mengajak masuk ke dalam tokonya untuk melihat-lihat ratusan pilihan pashmina lainnya di lemari mereka. Proses tawar-menawar pun berlanjut. Setelah angka 30 lira ditolak, kami mulai menaikkan tawaran menjadi 100 lira untuk tiga pashmina (kan katanya kalau beli banyak bisa dikasih diskon gitu), yaaaang ternyata hanya dalam beberapa kali bertukar kalimat diiyakan oleh si penjaga toko. Sepertinya ini pertanda kalau harganya sebenarnya bisa ditawar lebih murah lagi! Tapi sebagai amatir yang sama sekali tak berpengalaman, menawar setengah harga sudah merupakan prestasi bagi kami 😀

Pashmina pertama yang dibeli, yeeeey!

Pashmina pertama yang dibeli, yeeeey!

Singkat cerita, setelah Afwa kembali menunjukkan bakatnya menawar beberapa belanjaan lainnya, tibalah kami di toko yang menjajakan sarung bantal dengan motif khas Turki. Toko pertama menawarkan harga 25 lira untuk satu buah sarung bantal yang kemudian ditawar Afwa dengan harga 25 lira untuk sepasang sarung bantal (Afwa sampai-sampai udah tau gimana cara halus nawar setengah harga, hehe). Harga ini ditolak si penjaga toko dan walaupun kami menaikkan tawaran menjadi 30 lira, mas-mas penjaga toko tetap tak bergeming (si mas lagi ngambek jangan-jangan). 😀 Analisis Afwa sih, si mas-mas itu jual mahal karena sedang ada pembeli lain di tokonya, mungkin si mas takut kalau nanti pembeli yang lainnya itu juga minta diskon dan dia jadi gagal untung besar (ini hanyalah analisis belaka, bisa bener bisa salah :D).

Sampai kemudian kami tiba di toko selanjutnya yang juga menjual sarung bantal bermotif serupa dengan toko yang menolak harga 30 lira yang kami tawar. Bapak penjaga toko juga menawarkan harga 25 lira untuk sarung bantal yang sama dan langsung ditawar Afwa 30 lira untuk sepasang sarung bantal. Seingat saya tak sempat ada proses tawar-menawar yang berbelit-belit, si bapak langsung bertanya berapa sarung bantal yang mau kita beli dan mengiyakan harga 30 lira untuk dua buah sarung bantal.

Naaah, kebetulan ada teman saya di Jepang yang titip minta dicarikan sajadah, dan karena si bapak penjaga toko juga menawarkan sajadah, kami pun diajak masuk ke dalam tokonya untuk melihat beberapa pilihan. Sayangnya, dari sajadah yang ditunjukkan si bapak, tak ada jenis yang sesuai dengan pesanan teman saya. Tapi kemudian si bapak menawarkan sajadah yang katanya terbuat dari bahan sutra dengan harga 250 lira, atau sekitar 1,2 juta rupiah sodara-sodara! Masih setengah shock setelah mendengar harga sajadah yang super mahal itu, kami pun mencoba menolak halus tawaran si bapak dan bilang kalau harganya terlalu mahal. Si bapak mulai menurunkan harga menjadi 200 lira (ya tetep aja masih satu juta kali paaaak), dan saya pun mulai berkilah dengan mengatakan ini titipan teman, jadi saya tidak bisa memutuskan kalau budget-nya tidak sesuai. Di tengah proses tawar-menawar sepihak itu, disajikan pula tiga gelas teh Turki yang tampaknya dimaksudkan untuk membuat kami merasa “tak enak” dan supaya “terpaksa” membeli sajadah yang ditawarkan. Si bapak masih terus memaksa dan menurunkan lagi harga sajadah ke angka 150 lira! Waktu itu empat buat sarung bantal sudah berada di tangan kami tapi kembalian uang masih belum diberikan si bapak. Kami sempat waswas tapi untungnya beberapa saat setelah itu salah seorang penjaga toko lainnya datang membawa uang kembalian kami (mungkin tadi lagi gak ada uang kecil kali ya).

Saat kami makin merasa tak enak dan mencoba keluar dari toko, si bapak (masih dengan sedikit memaksa) menanyakan berapa harga paling tinggi yang bersedia kami bayar untuk sajadah itu. Masalahnya saya juga tak sedang ingin beli sajadah, teman saya pun sudah pesan supaya belinya kalau saya kebetulan nemu sajadah jenis yang dia mau itu, jadi perihal sajadah ini tidak mutlak harus dibeli. Sambil terus menolak tawaran si bapak, kami mulai melangkahkan kaki ke arah pintu. Sampai detik-detik terakhir itu pun si bapak masih sempat-sempatnya menawarkan harga 150 lira untuk tiga buah sajadah! Bayangkan sodara-sodara, harganya jadi seperlima dari harga pertama yang dia tawarkan! (gak kebayang kalo sampe kejadian kita beli si sajadah tanpa tawar menawar :O). Untungnya kami sudah hampir keluar dari pintu toko dan walaupun masih dengan perasaan “tak enak” kami berhasil “menyelamatkan diri” sambil mengucapkan terima kasih dan segera berlalu secepat mungkin dari pandangan si bapak >_<

Sarung bantal yang saya beli yang ternyata warnanya gak nyambung sama sofa di rumah! *tehe*

Sarung bantal yang saya beli yang ternyata warnanya gak nyambung sama sofa di rumah! *tehe*

Begitulah pengalaman para amatir berbelanja dengan kemampuan menawar seadanya di Grand Bazaar. Mungkin sebenarnya barang-barang yang kita beli cukup mahal dibandingkan harga aslinya, tapi setidaknya kami sudah berhasil memberanikan diri maju ke medang perang *halah*

PS: Kompleks Grand Bazaar terletak di kawasan Fatih dan buka kecuali hari Minggu. Jadi untuk mereka yang hobi berbelanja (dan jago nawar), mungkin ini bisa jadi pertimbangan dalam memilih tempat menginap dan menyusun itinerary jalan-jalan supaya sempat berbelanja di sini 🙂

Nuruosmaniye Mosque menyambut kami keluar dari Grand Bazaar malam itu :)

Nuruosmaniye Mosque menyambut kami keluar dari Grand Bazaar malam itu 🙂 *abaikan plang parkiran* 😀

Advertisements

7 responses to “Hampir Kena Tipu di Grand Bazaar

  1. huwaaa.. toss mbak :D! Aye nyerah kalau untuk urusan tawar menawar di pasar sejenis ini. Dulu pas di Grand bazaar aye menyerahkan sepenuhnya urusan ini sama temen orang turki yang kelihatan kalem tapi bisa sangat galak untuk urusan nawar. Selamatlah saya. hehehe… 😀

    • Huuu, iyaaa, paling gak berani euy nawar harga di pasar, takut sama yang jualan 😀 Tapi kayaknya klo jadi emak-emak mesti bisa nawar yak 😀

  2. nyerah juga kalau urusan nawar, tp klo lagi kepepet yaa mau ga mau terpaksa nawar di bawah setengah harga, haha.
    tempat belajanya gede juga ya, tp gempor banget pasti kalau semuanya ditelusurin :))

    • Iyaa prees, paling gak bakat deh ya kalo urusan tawar-menawar ini, mesti kuat mental 😀
      Gede emang pres, dulu konon kabarnya pernah jadi pasar paling gede di eropah segala (lupa taun berapa), kemaren itu kita cuman ngider sekitar 2 jam kayaknya, lebih tertarik sama makanan ketimbang belanja 😀

  3. Jadi inget belanja di chatucak. Muter sana sini nyari yg murah dan nawar smpe batas kemampuan 😀 *untung ga pke nyasar.hehe

    • Waaa, kk waktu di chatucak gak berani nawar na, berasa udah murah gitu jadi takut digalakin, hihi.. dipikir2 tapi cuman beli baju kaos oblong doang deng waktu itu, gak bisa belanja beneran >_<

  4. Pingback: Semalam di Istanbul :) | Jalan-jalan, traveling, melala, voyages, 旅·

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s