Menikmati Flamenco Berlatarkan La Alhambra

IMG_2678

Salah satu pajangan foto Flamenco di Restoran La Chumbera, Granada

Pertengahan tahun 2013 kemarin saya ketiban durian runtuh dan langsung super duper hepi waktu tau supervisor saya dari rumah sakit menginstruksikan saya untuk ikut konferensi di Granada, Spanyol! Dan nasib baik saya ternyata belum berhenti sampai di situ saja! Setelah konsultasi dengan bos besar di lab, saya malah disuruh nyari institusi riset lain di Spanyol, biar supaya saya bisa sekalian melakukan kunjungan riset ke institusi tersebut. Betapa bahagianya saya bisa mewujudkan cita-cita menjejakkan kaki di negeri Andalusia yang pernah menjadi saksi kejayaan Islam beratus tahun silam di Eropa –yang dulunya pertama kali saya dengar di pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs– itu, gratis dibiayai kampus!

Alkisah berangkatlah saya ke Sevilla, kota pertama yang akan saya kunjungi di Espanyola *hey, it rhymes! *maksa! 😀

Hari pertama di Sevilla saya langsung mengunjungi Real Alcázar, dan alhamdulillah secara tak sengaja bertemu dengan dua orang mas-mas dari Malaysia di salah satu restoran halal terdekat. Begitu selesai makan siang, saya pun moto-moto si restoran dari berbagai angle buat referensi di blog kuliner saya (ampun dah ternyata udah lama banget gak diapdet itu blog -_-), dan kemudian salah satu mas-mas itu nawarin buat motoin saya di depan restoran. Berawal dari foto di depan restoran inilah acara nonton Flamenco mulai direncanakan *loh?*

Foto yang jadi asal muasal niat nonton Flamenco, hehe..

Foto yang jadi asal muasal niat nonton Flamenco, hehe..

Jadi ceritanya foto itu saya aplot ke fesbuk dan sukses mengundang komen beberapa teman sejawat di jepun yaaang salah satunya kemudian menyinggung soal pertunjukan Flamenco di Sevilla! Tapi ya saya kan awalnya gak tau apa-apa perihal Flamenco di Sevilla, dateng ke situ juga browsing-nya cuman tempat-tempat wisata belaka. Namun akhirnya setelah sampai di tempat menginap dan baca-baca tentang pertunjukan Flamenco di Spanyol, saya pun langsung bertekad mesti harus menyempatkan diri nonton Flamenco selama di sana!

Sayangnya sampai hari terakhir di Sevilla pun saya belum berhasil nonton pertunjukan Flamenco. Gara-garanya pertunjukan Flamenco ini biasanya mulainya malem banget dan saya pastinya gak berani keluar sendirian malem-malem di negeri antah berantah itu *lebay! Pasalnya si Javier –peneliti di CNA (Centro Nacional de Aceleradores), intitusi riset pertama yang saya kunjungi– sudah berangkat duluan ke Granada sehari setelah kunjungan saya untuk persiapan konferensi. Maklumlah dia salah satu tuan rumah yang bertugas sebagai panitia. Dan Marta –salah satu mahasiswi PhD di bawah bimbingan Javier– pun sudah terlanjur ada janji dengan temannya di hari bebas saya di Sevilla. Jadilah hari kedua di Sevilla saya habiskan dengan jalan-jalan santai ke sekitaran Plaza de Espana seorang diri. Setelah beres urusan presentasi dll loh ya pastinya. 🙂 *btw Plaza de España ini sempet bikin bingung waktu kemudian saya nemu Plaça d’Espanya di Barcelona. Ternyata kata wikipedia memang ada beberapa dianya 😀

Balik lagi ke si Plaza de España, pas saya jalan-jalan sore itu ternyata ada yang lagi sesi pemotretan Flamenco sodara-sodara! Duh, bikin saya makin pengen nonton aja deh ini beneran. Oh well, walopun pastinya si mbak gak mempertunjukkan kemampuan tarian Flamenco-nya, ngeliatin sesi foto-foto ini dari belakang tukang foto lumayan bikin saya hepi lah ya, kan pose-nya tetep aja khas Flamenco begitu 😀

Sesi pemtoretan di Plaza de España, Sevilla

Sesi pemotretan Flamenco di Plaza de España, Sevilla

Akhirnya sebelum cabut dari Sevilla, saya dan Marta pun janjian, klo ternyata dari dinner konferensi di Granada ntar gak ada pertunjukan Flamenco, kita bakal nyari tempat yang recommended di Granada dan memutuskan untuk nonton berdua saja! Syoalnya ternyata si Marta juga belum pernah nonton Flamenco sebelumnya, jadi sama-sama pengalaman pertama ini ceritanya 😀

Sampai tibalah hari di mana dilangsungkan makan malam bersama seluruh peserta konferensi, aka banquet, di restoran La Chumbera yang lokasinya berada di areal pegunungan –apa perbukitan yak saya lupa– sekitaran Sacromonte dengan view La Alhambra!

View Alhambra dari La Chumbera

View Alhambra dari La Chumbera

Naah, pas lagi sesi ngobrol-ngobrol bebas yang ditemani cemilan kecil dan cocktail (gak kok, saya minumnya orange juice doang kok, serius :D), saya dan Marta sempat masuk ke sisi restoran yang terletak di dalam gua. Kita berdua sama-sama rada males bersosialisasi dengan peserta konferensi yang lain, jadi memutuskan kabur dari keramaian 😀

Di dalam gua sini udaranya berasa adem dan di dinding-nya pun dipajang beberapa benda unik dan foto-foto bernuansa Flamenco. Untungnya waktu itu tidak ada pengunjung lain selain rombongan konferensi kita, jadi saya dan Marta bisa leluasa muterin bagian dalam restoran 😀

IMG_2668

Salah satu pajangan random di dalam restoran

IMG_2670

Marta, tampak belakang 😀

Pas muter-muter itu lah kita sempet nemu ruang ganti yang biasanya dipake buat persiapan pertunjukan Flamenco. Dan karena pintunya cuman ditutupin gorden tipis dan waktu itu juga si gorden rada kebuka dikit, kita pun ngintip ke dalam dan kemudian kecewa karena si ruang ganti ternyata kosong melompong!

Sambil makan malam akhirnya saya dan Marta mulai menyusun rencana berburu tempat pertunjukan Flamenco di Granada, setelah kecewa ngeliat ruang ganti yang kosong tadi. Taaapi, kalo udah rezeki emang gak bakal ke mana ya, pas di tengah-tengah makan malam outdoor itu, tiba-tiba aja lewat rombongan mbak-mbak berbaju khas penari Flamenco dan dua orang pria bergitar (bukan bang Rhoma dan grup Soneta-nya loh ya :p) yang jalan ke arah dalam restoran! Saya sama Marta langsung liat-liatan dan sama-sama mikir “Jangan-jangan karena mereka udah pake pakaian lengkap gitu makanya tadi ruang ganti nya kosong?”. Semoga sih ya!

Dan bener aaaja, ternyata gak lama setelah itu beberapa kursi kayu pun disusun di panggung kecil di depan tempat makan malam kami.

And then the show begins!

kanan bawah tuh Alhambra nya :D

kanan bawah tuh Alhambra nya 😀

Ada tiga orang penari yang tampil bergantian dengan tarian khas-nya masing-masing. Tarian-tarian itu pastinya diiringi gitar si mas-mas dan tepukan plus nyanyian atau pun seruan lantang dari dua orang penari lainnya yang duduk di kursi. Beruntunglah saya dapat kenalan orang lokal seperti Marta yang bisa menerjemahkan makna nyanyian dan tarian yang dipertunjukkan. Dari yang saya tangkap dari penjelasan Marta sih kebanyakan liriknya menceritakan tentang kisah cinta, romantisme dan atau perasaan si perempuan.

Saya berkali-kali dibuat kaget gara-gara hentakan keras sepatu si penari ke panggung kayu yang sukses mengeluarkan suara ketukan yang dahsyat! Saking kencengnya hentakan kaki si mbak, saya sempet khawatir sendiri jangan-jangan ntar sepatu si mbak robek gara-gara gerakannya itu! *serius loh ini khawatirnya, saya sampe ngeliatin sepatu si mbak berkali-kali* Tarian Flamenco ini pastinya emosional dan sangat passionate, sampe mungkin bakal ada yang beranggapan tarian Flamenco ini berlebihan, karena memang ada beberapa gerakannya yang rada-rada ekstrim. Dan bener aja, di akhir pertunjukan Marta sempet nanya gimana kesan saya tentang Flamenco, karena tampaknya ada salah seorang peserta konferensi yang ngejawab pertanyaan Marta dan bilang kalo dia kurang sreg dengan pertunjukan itu. Tapi kalau menurut saya, gerakan-gerakan itu semata-mata adalah penghayatan dari sang penari sih kayaknya, yang kemudian dibenarkan Marta.

Sayang sekali saya tidak memvideokan seluruh bagian pertunjukan malam itu. Tapi ada yang aplot video pertunjukan Flamenco versi serius di La Chumbera di yutup sini. Mirip-mirip lah ya Flamenco nya *maksa* 😀

Flamenco sendiri memang berasal dari daerah Andalusia dan diyakini dulunya diciptakan oleh orang-orang Gipsi. Marta dan Javier pun sempat berdebat juga soal dari mana Flamenco sebenarnya berasal. Javier yang asli Granada bilang Gipsi itu sebenarnya dari Granada, tapi klo kata Marta sih aslinya ya dari Sevilla. Dua-duanya ngebelain kampung halaman masing-masing, hehe.. Daaan saya pun cuman bisa iya-iya aja berhubung gak tau apa-apa tentang sejarah Flamenco, apatah lagi tentang Gipsi.

Hari itu betul-betul jadi pengalaman berkesan buat saya, yang tadinya sama sekali buta soal Flamenco, kemudian jadi tertarik untuk tau cerita di balik tarian dan nyanyian dalam pertunjukan Flamenco. Semoga nanti diberi kesempatan untuk berkunjung lagi ke Andalusia dan kemudian nonton Flamenco di dalam gua-gua putih itu dengan kemampuan berbahasa Spanyol yang memadai untuk memahami isi cerita mungkin? 🙂

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s