Batu-batu GeJe Wallpaper Windows Itu ^_^

DSC_0144

batu-batu geje itu 😀

Selain padang rumput hijau nan luas yang biasanya selalu nongol di wallpaper standar Windows dari sejak dulu kala, pastinya pada ingat juga dong sama penampakan batu-batu random-yang juga berlatarkan padang rumput hijau-berjudul Stonehenge ini? 😀

Rencana saya ke Stonehenge waktu itu sebenernya mau nekat dilaksanakan di hari pertama saya mendarat di London, tapi sayangnya saat saya membuka browser internet dan mencoba memesan bus tour secara online, ternyata paket tur hari itu sudah penuh dan jadilah rencana jalan-jalan saya harus ditunda satu hari setelahnya. Memang semua sudah diatur sama Allah ya, kalau saja saya nekat ke Stonehenge hari pertama itu, mungkin bisa kejadian tepar di tengah jalan gara-gara jetlag saya! Mana mungkin saya minta dipulangkan duluan padahal lagi “di luar kota” 😀

Maka di hari kedua sejak pendaratan di negeri –yang orang-orangnya bikin saya berasa lagi nonton film lantaran aksen British yang super kental di mana-mana– ini, pagi-pagi sekitar jam setengah 7 berangkatlah saya menuju tempat janjian jemputan travel sebelum kemudian diangkut bersama penumpang lain ke terminal pusat mereka. Di terminal pusat inilah baru nanti kita dipencar ke tempat menunggu bus untuk paket tur masing-masing. Hari itu saya menggunakan jasa Goldentour yang bisa dicek detailnya di sini. Saya ambil paket tur yang pagi supaya siangnya bisa balik lagi ke kota. 

Naah, waktu lagi antri bus ini, tiba-tiba ada sepasang suami istri (I assumed so, and turned they are indeed husband and wife :D) dari Malaysia menyapa saya dengan bahasa Melayu yang khas. Tadinya saya kira mereka sedang ber-bulan madu (karena memang masih keliatan seperti pasangan muda di mata saya) tapi oh tapi ternyata mereka sudah nikah bertahun-tahun dan rombongan anak-anak sedang “ditinggal” di Malaysia karena si bapak ada tugas dinas dan si ibu menemani. Oh well, honeymoon juga ini mah kayaknya 😀 Alhamdulillah saya jadi ada temen ngobrol dan bisa berbahasa Melayu lagi (yang biasanya sangat jarang saya lakukan walaupun bahasa daerah kampung halaman saya adalah bahasa Melayu).

Hari itu mendung. Saya sudah harap-harap cemas karena ramalan cuaca bilang hari itu akan hujan. Tapi alhamdulillah begitu kita tiba di lokasi *syuting kali :p* malah lumayan cerah dan alhamdulillah tidak turun hujan sampai tur selesai 🙂 Sepanjang perjalanan berkali-kali saya menyaksikan ladang luas yang mungkin dipakai buat menggembalakan ternak-ternak di sana. Langsung teringat novel Partikel-nya Dee juga waktu berkunjung ke Stonehenge ini! Karena tadinya, sebelum baca novel Dee lagi, saya sama sekali tidak kepikiran untuk mengunjungi si Stonehenge, tapi kebetulan banget saya baca si novel beberapa minggu sebelum berangkat dan jadilah memutuskan melipir sebentar 😀

DSC_0180

papan nama deket parkiran

Di Stonehenge sini ada audio guide yang menjelaskan satu-persatu sejarah atau maksud dan tujuan dari beberapa poin di sekitar Stonehenge. Tiket masuk plus audio guide juga sudah termasuk dalam paket tur. Kalau perihal sejarah lengkapnya Stonehenge mungkin bisa langsung meluncur ke wikipedia atau ke website-nya di English Heritage.

IMG_0786

Bersama “kak” Asgini dari Malaysia *a way of saying “mbak” in Malay*

Di sini saya juga sempat “bertemu” dengan seorang bapak-bapak aneh (yang ini saya kurang yakin cowok ato cewek ato オネェ, tapi asumsikan sajalah cowok aka bapak-bapak ya) yang bergaya ala penyihir di jalan setapak sekitar sana. Si bapak berbaju putih dan berjubah, lengkap dengan tongkat (mirip punya penyihir) dan sempat ngomong kalimat-kalimat semacam mantera ke salah satu mbak-mbak yang lewat :O Saya mah cuma minta izin foto saja dan minta si bapak berpose dengan latar Stonehenge di kejauhan sana 😀

DSC_0158

si bapak penyihir 😀

DSC_0164

sebelum bye bye mesti foto2 dulu

Sayangnya, waktu bus yang saya tumpangi kembali ke London, hujan sudah mulai turun dan saya lagi-lagi menyesali payung lipat yang entah kenapa saya tinggalkan di Tokyo. Pasrahlah saya kehujanan demi bergerak meninggalkan tempat rombongan diturunkan dari bus tur. Tapi tampaknya orang-orang di London memang beda dengan orang Jepang yang hampir selalu memanfaatkan payung mereka tiap kali turun hujan. Di sana malah banyak yang cuma memasang hood jaket saja menembus hujan dan badai *eh, gak tau deng klo badai*

Cerita bergeser sedikit dari batu-batu wallpaper yang jadi judul (maapkanlah saya yang sungguh sangat tidak terstruktur kalau lagi nulis -_-“)

Tadinya siang itu saya mau jalan ke beberapa Royal Houses sampai menjelang sore, tapi ya karena hujan akhirnya saya memutuskan balik ke arah Leicester Square saja untuk mencicipi makanan di restoran Indonesia yang diberi tahu Deva hari sebelumnya. Restoran Indonesia di sekitar kawasan Chinatown ini suasanya benar-benar serasa di warung sodara-sodara! Mejanya kayu, ada becak nangkring di pintu masuknya, plus ada gerobak juga dong di dalam! Hari itu saya memutuskan makan nasi campur, dengan lauk rendang dan sambel lado hijau yang super pedeeeesss! Saya saja yang (ngakunya) kuat sama makanan pedas sampai ingusan plus nangis-nangis sambil makan *lebay! 😀 Oiya, plus sayur rebus juga deng nasi campurnya (yang saya tak tahu itu daun apa tapi sepertinya dimirip-miripin sama rebus pucuk ubi alias daun singkong). Mungkin bisa langsung cek facebook-nya restoran ini juga di sini.

nasi padang

nasi campur maknyus

Setelah cacing-cacing di perut mulai tenang dan berhenti berunjuk rasa, saya putuskan melanjutkan perjalanan sore itu. Tadinya saya memang sudah berencana mau ke mesjid London yang sempet saya browsing sebelumnya waktu masih di Tokyo. Alamat lengkap sudah ada di hp, sudah saya masukin ke google map dan sudah ada rute bus juga sama di iphone. Tapi entah kenapa nama bus stop-nya tidak muncul di google map, dan saya sukses nyasar naik bus beberapa kali sambil basah kuyup kehujanan (makin sore hujan-nya makin gede dooong!). Sempat ada bapak-bapak yang mungkin tak tega melihat saya yang kelihatan lecek dan lusuh sampai beliau menegur dan bertanya “Are you okay?” waktu saya sibuk membolak balik peta di pemberhentian bus yang saya pilih acak dan ternyata saya mesti putar balik gara-gara si mesjid udah kelewatan.

Oiya, setelah nyasar beberapa kali itu saya sempat bertemu dua orang remaja putri berjilab *ceilee remajaaa* di bus double decker yang tersohor itu. Pastinya langsung senang dong saya bersua dengan saudara sesama muslim di tengah kesulitan saya mencari si mesjid ini. Tapi sayangnya ternyata mereka tidak bisa bahasa Inggris dan kelihatan kebingungan mau menjelaskan arah menuju mesjid ke saya *kayaknya sih mereka paham maksud pertanyaan saya tentang mesjid, cuma gak bisa ngejelasin ke saya aja gitu*

Alhamdulillah banget setelah perjuangan panjang (sempat nyasar lagi salah ambil jalan dari bus stop di tengah gelap dan hujan dan kemudian saya bertanya ke bapak-bapak security terdekat) akhirnya saya bisa juga merasakan shalat maghrib berjamaah di Mesjid London! Penuh perjuangan sodara-sodara!

Mesjid London

sama sekali gak sempet moto mesjid dari luar gara-gara ujan gede, huuu….

*masih bersambung…

つづく

Advertisements

2 responses to “Batu-batu GeJe Wallpaper Windows Itu ^_^

  1. wooo dikasih tali sekeliling gt ya.. kemarin nonton Thor ada scene si Eric Selvig lari2 dekat batu2 itu, ga liat ada tali pemagar sekeliling. bayar berapa ya itu syutingnya.. haha..

    • Iya buu ditaliin doong gak bisa masuk sampe ke dalem batu2nya.. Si Thor syuting sebelum jam buka kali pas masih kosong 😀 Ato yaa bayar mahhal, soalnya pas baca Partikel-nya Dee emang ada semacam keanggotaan buat donatur apa apaaa gitu, yg bisa masuk sampe ke dalem

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s