“Naik” Fuji-san ^^

Fuji-san

Fuji-san itu bagusnya diliat dari jauh aja sodara-sodara! 😀 *foto diambil dari sisi Kawaguchiko sekitar awal Mei*

Sebenarnya dari sejak tahun pertama tiba di Jepang, saya sudah sangat ingin mendaki Gunung Fuji (selanjutnya akan disebut “Fuji-san”). Tapi apa hendak dikata, di musim panas tahun 2009 itu ada ujian masuk master yang ancamannya jauh lebih mengerikan! Saya pun sudah berharap bakal bisa berangkat di tahun 2010 tapi ternyata saya kebagian “jatah” jikken (eksperiemn -red) di reaktor di Tokaimura, satu bulan penuh di Juli plus setengah bulan Agustus. Jadi lagi-lagi niat hati untuk mendaki Fuji-san terpaksa diikhlaskan. Dan sampai saat postingan ni ditulis, saya masih belum memastikan apakah akan lanjut S3 di tempat yang sekarang atau tidak. Jadi bisa dibilang tahun ini adalah kesempatan terakhir untuk bisa naik Fuji-san! *sambil ngepalin tangan ke udara* :p Dan lagi, sebagai divisi internal yang salah satu tugasnya adalah mengatur acara jalan-jalan PPI Todai, sempat direncanakan untuk berangkat ke puncak Fuji-san bersama rombongan anak-anak PPI Todai.

Dan akhirnyaaa, direncanakanlah keberangkatan menuju Fuji-san tahun 2011 ini… ^^

Kepanjangan intro lu Dek! Sempet-sempetnya curcol :p

Maka dari dari hasil konsultasi dengan berbagai pihak yang sudah berpengalaman naik Fuji-san, diputuskanlah untuk melakukan pendakian di malam hari demi bisa menyaksikan sunrise di puncak. Alasan lain adalah karena katanya Fuji-san itu gersang, takutnya kita bakal dapat panasnya doang kalau mendaki di siang hari tanpa pemandangan hijau layaknya pegunungna di Indonesia.

Jadi, berangkatlah rombongan hari itu, Minggu 17 Juli pukul 3 sore, dengan jumlah peserta 7 orang yaitu saya, Nur, Firman, Hanin, pak Dendi, pak Rustam, dan Hudri (yang mestinya 8 orang tapi Bayu tiba-tiba “terjebak” kelas dan terpaksa batal ikut, hiks).

Bus berangkat dari Shinjuku menuju stasiun Fuji-san. Dari sini kami berganti bus yang menuju ke Fuji-san 5th station. Sebenarnya ada bus langsung yang berangkat dari Shinjuku ke Fuji 5th station seharga sekitar 2,600 yen, tapi waktu itu saya dan teman-teman kehabisan tiket dan terpaksa menyambung dua kali bus dengan total biaya sekitar 2,700 yen.

Singkat cerita kita sampai di 5th station sekitar pukul 7 malam. Langsung ke shokudo (semacam kantin -red) untuk makan malam (menunya soba seperti biasa :D), shalat, dan tak lupa menunaikan hajat :D. Oiya, untuk menggunakan toilet di 5th station ini dikenakan biaya sebesar 50 yen! Dan di atas sana, juga di track selama naik Fuji-san, biaya penggunaan toiletnya 200 yen, sodara-sodara! Jadi jangan lupa siapkan koin receh yang banyak ya, demi kemaslahatan bersama dan demi kebersihan Fuji-san juga tentunya.

Oiya, setelah turun dari bus di Fuji 5th station, kami sempat foto-foto sedikit karena kebetulan sedang pas waktunya matahari terbenam 🙂 

Sunset dari Fuji 5th station

 

Di Fuji 5th station ini kami juga sempat bertemu dengan mas-mas ーklo sendirian bilangnya “mas” aja ya? :pー dari Nagano yang baru saja turun dari puncak Fuji-san. Si mas dengan baik hati memberikan tabung oksigen (kecil tentunya) yang tak ia pakai selama pendakian hari sebelumnya. Di 5th station ini juga beberapa dari kami membeli tongkat kayu sebagai alat bantu mendaki dan juga untuk di-stamp di sepanjang rute perjalanan ke puncak. Saya sendiri kebetulan sudah dapat warisan tongkat kayu dari senior di Todai yang capnya sudah kumplit di tahun 2005.

Maka sekitar pukul 8.30 malam, dimulailah pendakian menuju puncak Fuji-san dengan melintasi Yoshida trail. Rute ini dipilih karena katanya kalaupun tak terkejar tiba di puncak sesuai target sebelum matahari terbit, sunrise yang bisa dilihat di sepanjang rute juga masih cakep!

 

Di awal perjalanan, seluruh peserta rombongan masih semangat dengan stamina maksimal. Bulan purnama di langit malam itu dengan latar lampu kota yang terlihat dari ketinggian benar-benar baguuus banget dengan lapisan awan tipis di atasnya dan bintang-bintang yang kelihatan jelas tak seperti langit malam di kota *mirip sama pemandangan di Dago gitu deh 😀

 

Errr, gara-gara flash kamera, background nya jadi gak keliatan.. >_<*

Tapi saudara-saudara, cerahnya langit dan keceriaan itu tidak bertahan lama bagi saya. Dalam hitungan beberapa menit saja (mungkin setengah jam ada sih ya), begitu tracknya mulai menanjak, saya langsung ngos-ngosan dan mulai merasa capek :O Kaget juga karena saya tak menyangka kalau kondisi fisik saya selemat itu! Baru jalan sedikit saja, saya sudah harus berhenti untuk mengambil napas. Setelah merasa agak mendingan dan sanggup jalan lagi, ternyata jalan sedikit saja langsung ngos-ngosan lagi 😀

Akhirnya peserta rombongan yang cowok-cowok pun tak sabar menunggu dan memutuskan untuk terus mendaki duluan. Sampai sekitar 8th station, Hanin dan Firman masih berbaik hati menunggu kami, tapi pak Rustam dan pak Dendi sudah langsung duluan melesat meninggalkan saya dan Nur jauh di belakang.

Untungnya sehari sebelum hari keberangkatan, ada kohai (junior -red) Panasonic Schorlarship saya yang tiba-tiba sms dan bilang mau ikut mendaki Fuji-san. Dia sendiri sudah berpengalaman naik gunung di Indonesia. Jadi Hudri lah yang menjadi guide sekaligus motivator saya dan Nur yang kalau ditinggal berdua saja entah jam berapa baru bisa sampai di puncak. Atau mungkin belum tentu juga kita bisa masih ada motivasi untuk terus mendaki dan menyerah di tengah jalan 😀 *duh, tapi jangan-jangan sebenernya waktu itu Hudri nungguin saya dan Nur gara-gara gak enak sama senior ya? 😀 Maa, doudemo ii ka! :p

Fuji-san sendiri sebenarnya bisa dibilang sudah menjadi tempat wisata nasional (update: dan sekarang sudah jadi Warisan Dunia UNESCO euy!), sehingga jalur pendakiannya sudah dibuat sedemikian rupa supaya “cukup” ramah bagi anak kecil sampai kakek-nenek. Tapi tentunya tak boleh meremehkan perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai puncak gunung setinggi 3.776 meter ini (eh, kita sih sebenarnya curi start dengan mulai mendaki dari 5th station di ketinggian lebih dari 2.000 meter :D). Tapi yang jelas rute-rute awal memang tidak terlalu sulit dengan track berbatu dan berpasir (kerikil kecil). Pagar dan tali pengaman juga sudah dipasang hampir di sepanjang jalan, jadi insyaAllah cukup aman dan risiko kesasar pun bisa dibilang cukup kecil.

Lesson learned: Adalah penting untuk menyiapkan sarung tangan, terutama yang bahannya tahan air. Soalnya, sewaktu-waktu cuaca bisa berubah dan hujan tiba-tiba, jadi sarung bermanfaat banget buat melindungi tangan saat haru menopang badan seandainya terpeleset karena bebatuan yang licin di tengah hujan. Sarung tangan ini juga bisa jadi pelindung supaya tangan tidak sakit atau lecet karena terus-terusan megang tongkat atau sewaktu memegang tali di rute menanjak yang mengharuskan kita bergantung pada tali. Headlight juga penting banget buat yang naik di malam hari.

Oiya, seperti yang saya bilang sebelumnya, di sepanjang jalan naik ke puncak, kita bisa menemukan petugas yang membeirkan stamp di tongkat kayu yang kita bawa. Ada abang-abang yang siap sedia ngecap di tiap rest area *Nur yang paling semangat ngumpulin cap kemaren itu, hehe.. Untuk satu kali stamp, biasanya kita dikenakan biaya sekitar 200-300 yen euy, dan sekitar 400 yen untuk stamp terakhir di puncak.

si abang-abang lagi ngecap tongkat Nur

Dan setelah melewati perjuangan cukup panjang, rombongan tiba di 8th station yang sungguh bikin saya esmosi gara-gara ada beberapa pemberhentian yang semuanya bertuliskan 8th station! Padahal begitu melewati satu 8th station, dan kemudian melihat ada cahaya-cahaya lagi di atas, saya jadi berharap itu adalah 9th station. Setelah dengan semangat mikir “Udah deket, udah deket”, ternyata semua itu hanyalah harapan semu belaka! Yang kita temukan ternyata lagi-lagi adalah 8th station! Entah di pemberhentian yang keberapa (kayaknya pemberhentian ketiga sih) barulah akhirnya ada tulisan 本八合目 alias 8th station yg ASLI!

8th station yang sebenarnya! *jelek banget ya papan nya. Btw itu itu tulisannya ngasih tau kalau kita sudah di ketinggian 3,400m..

Sepanjang perjalanan malam itu, sebagian besar dari kami hanya makan onigiri, coklat dan juga ngemil gula merah. Saya sendiri sempat “menjarah” bento (bekal -red) Hudri yang ada sambal teri kacangnya *maapkanlah senpai yang semena-mena ini ya Hud 😀

Dan penting juga untuk memakai pakaian yang bahannya cepat kering. Pasalnya selama mendaki itu, cuaca mulai berubah dari panas ke dingin, dan selama mendaki tentunya kita mengeluarkan keringat, tapi cuaca di luar tubuh dingin, jadi kalau baju yang kita pakai basah, risiko masuk angin juga lebih besar. Untung waktu itu saya niat bawa minyak kayu putih dari rumah, jadi lumayan buat menghangatkan badan Ada juga beberapa tempat makan di pemberhentian di sepanjang jalan, tapi tentunya agak sulit menjamin apakah menu yang disajikan “aman” untuk dikonsumsi atau tidak *selain mahal juga pastinya :p Terus, kalo kata pak Rustam ni ya, misalnya kejadian masuk angin pun, dan berasa pengen kentut, lepasin aja jangan ditahan-tahan, hihi.. Palingan orang-orang di belakang kita yang kena polusi jadi termotivasi buat naik lebih cepet.. :p

Lesson learned: Klo ada porter *halah* bawalah makanan “beneran” (aka nasi) sekalian. Tapi jangan yang bikin terlalu kenyang banget juga sih, ntar malah susah mendakinya (jadi mau lu apa, Dek?? :p). Makanan yang siap makan seperti coklat, jeli, gula merah, dkk sebenarnya lebih cocok dan ramah untuk ransel, tapi kok ya saya merasa enak juga kalau bawa bekal makanan berat dengan porsi lebih kecil dari yang biasa dikonsumsi saat makan malam mungkin 😀 Bawa minuman juga pastinya penting banget. Dan di puncak gunung pun sebenarnya ada yang jual air minum botolan, dengan harga hampir tiga kali lipat harga biasa! Jadi perkirakanlah kemampuan dan kebutuhan diri masing-masing. Saya sendiri waktu itu akhirnya “cuma” bawa satu botol air putih (yang isi 650 ml), trus di atas “barter” sama Firman satu botol lagi buat turun 😀

Dari pos 8 ke atas yappari lebih berat dibanding track dari pos 5 ke pos 8. Eh tapi ini juga gara-gara faktor sayanya yang lemah sih. Maklum, saiya penderita sinusitis dan dalam keadaan normal pun kadang cuman bisa napas pake satu idung. Naah, kemaren itu dingin pulak kan, jadilah ingusan dan rada kesumbat idungnya. Trus makin ke atas oksigen makin menipis juga, jadinya saya beberapa kali mesti berenti ngirupin tabung oksigen sampe berasa mendingan napasnya. Tak lupa make Nasacort nasal spray juga untuk meringankan hidung tersumbat.. *bukan postingan berbayar* 😀

Lesson learned: Klo anda punya riwayat penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pernapasan, sebaiknya pertimbangkan lagi sebelum mengambil keputusan untuk mendaki gunung. Klo pun yakin bisa, jangan lupa bawa obat-obatan pribadi (nasal spray dan sejenisnya) dan pastinya tabung oksigen ukuran kecil sebagai pertolongan pertama.. ^^

Dari pos 8 ke pos 9 ini kita terjebak macet euy! Iya sodara-sodara, MACET!! Saking banyaknya orang yang naik Fuji-san, kita kena macet dari sekitar jam 3an sampe jam 6 pagi baru berhasil nyampe puncak. Padahal normalnya udah tinggal satu jam lagi buat sampe ke puncak dari pos 9 ini. Padat merayap kayak di jalan raya Jakarta deh pokoknya :p Jalannya selangkah demi selangkah boow, plus ngantuk plus capek plus dah mulai berasa gerimis. Penuh perjuangan deh pokoknya!

Setelah perjuangan panjang kita pun tiba di pos 9 pas udah ampir lewat subuh gitu. Akhirnya kita minggir bentar buat shalat dan kemudian masuk lagi ke barisan, salah deng ANTRIAN! 😀

sempet moto plang pos 9 pas udah tepar sambil nungguin Nur sama Hudri shalat

Setelah shalat kita pun lanjut jalan beberapa menit tapi ternyata udah mulai keliatan tanda-tanda sunrise. Akhirnya kita berenti aja di tempat karna udah gak mungkin lagi keburu ngeliat sunrise di puncak. Orang-orang lain juga akhirnya pada berenti di tempat masing-masing dan mulai heboh teriak-teriak begitu ngeliat matahari mulai terbit.. Sampe ada yang bela-belain bawa terompet boow pas sunrise!

Udah gitu ya, saya kan pas dari bawah udah lemah tu, jadilah kamera saya titipin ke pak Dendi, jas ujan dititipin ke Hanin. Walhasil pas sunrise gak ada kamera di tangan, pas gerimis gak ada jas ujan di tas, haha..

Lesson learned: Adalah sangat penting untuk meminimalisir barang bawaan di tas, apalagi klo gak kebiasa bawa berat-berat gitu kan. Agaaaain, kecuali ada porter, haha.. 

Jadilah ご来光 aka sunrisenya cuman bisa saya nikmati sambil duduk-duduk santai trus poto-poto dikit pake iphone.. ^^

Singkat cerita akhirnya jam 6 pagi kita nyampe juga di puncak. Menjelang sampe atas masih kejebak macet doooong. Orang-orang pada poto-poto dulu di gate menuju puncak. Saya mah asik-asik aja walopun macet, kan bisa sekalian istirahat dan ngambil napas, hehe..

Torii menuju puncak Fuji-san

Trus ya begitu nyampe di atas kita langsung poto-poto bentar, makan (lagi-lagi mie sodara-sodara!!), ke toilet, trus buru-buru cabut turun deh. Kabutnya tebel banget hari itu, jadinya mau foto-foto di sekitar pun gak bagus kayaknya.

Trus lagi ni, di atas tu dingin banget euy ternyata, jadi ya bener-bener deh siapin jaket tebel supaya gak menderita di atas, hehe.. Bawa kairo juga bisa ngebantu kali ya, kemaren saya kelupaan euy!

tampang ngantuk orang-orang yang gak tidur semaleman 😀

Oh iya, sempet pengen ngeposin kartu pos dari puncak Fuji-san juga, tapi pas nanya sama mbak di tempat makan, dia bilang angin lagi kenceng banget hari itu dan kesana lumayan jauh (sekitar 20 menit klo jalan biasa). Kecele deh saiya begitu denger kesana itu masih mesti jalan lagi, kirain deket aja kan. Tapi trus ternyata bisa titip ke mbaknyaaaa!! Bayar 50 yen saja per lembar kartu pos. Jadilah akhirnya kesampaian juga ngirim kartu pos dari sana, hehe.. *kartu pos sudah mendarat di apato di Tokyo beberapa minggu yang lalu, smoga yang saya kirim ke papa di Pekanbaru juga sampe dengan selamat, amiiin…

the postcard posted from Fuji-san

Oiya kelupaan, note penting buat yang nyari toilet pagi-pagi. Toilet di puncak bayar 300 yen, dan ada semprotan pake selang yang kayak di toilet di Indonesia! Bukan washlet sih, tapi kali aja ada yg perlu B*B di pagi hari karna kebiasaan rutin kan.. *ngelirik pak Dendi, hihi.. 

Setelah beres makan dan nyetor ke toilet, kita mulai turun sekitar jam 7an. Track turun ini bener-bener gak enak euy! Debuuu dimana-mana. Jalurnya zig-zag trus penuh dengan kerikil dimana-mana. Pas turun langsunglah bermasker dan ber-sunglasses ria kan, tapi malah dengan bodohnya kelupaan pake sunblock yang udah disiapin dari minggu sebelumnya, haha.. Udah gak ada tenaga juga euy pas turun ini. Bayangin aja, kita gak tidur semalaman gitu kan kemarennya, trus kecapean kena macet juga pas naik. Dan sepanjang jalan ini kamera saya bawa sendiri demi menghindari kemungkinan kehilangan momen buat foto-foto, hehe.. *di tengah jalan minta tolong Hudri tukeran sih akhirnya 😀

pas moto ini masih bisa ngeliat pak Rustam, Firman dkk di depan.. Abis ini langsung tertinggal jauh saking leletnya saya dan Nur, hehe..

tadinya masih mau lama-lamaan poto disini, trus kirain ada beberapa poto kan dengan pemandangan ini, tapi ternyata pas ngecek kamera di rumah cuman ada satu poto ini, huwaaa…

Eniweeey, saya, Nur dan Hudri ーthe guideー nyampe pos 5 lagi sekitar jam 12 siang, sementara pak Rustam, pak Dendi plus Firman klo gak salah jam 10an gitu dah nyampe, Hanin jam 11an. Tadinya pada mau buru-buru pulang tapi saya maksa makan dulu gara-gara udah kelaperan berat dan gak jamin juga ada tempat makan di sekitar Kawaguchiko-eki. Makan soba lagi dong pastinya! Abis makan sempet beli omiyage dikit, trus langsung lanjut naik bus ke Kawaguchiko-eki. Dari situ kita nyari bus pulang ke Shinjuku. Waktu pergi kita gak beli tiket bus pulang di awal karna gak tau kira-kira jam berapa turunnya, dan ternyata bus ke Shinjuku lumayan penuh sodara-sodara! Untung aja waktu itu masih kebagian bus yang jam 3an. Dan sesuai duagaan, kita kejebak macet pas pulang karna kebetulan senen itu tanggal merah, jadi mungkin orang-orang juga baru balik liburan long weekend dari luar kota.

Gara-gara macet ini kita baru nyampe Shinjuku pas udah rada malem. Berasa gembel parah celana udah kotor penuh debu trus keringetan dan gak pake mandi dua hari, hihi.. Untung saya jalan pulangnya masih bareng pak Dendi dan pak Rustam, jadi gak sendirianlah nge-gembel di denshanya.. :p

Lesson learned: Kayaknya pake cover di pergelangan kaki (gaiters) lumayan membantu deh. Jadi klo gak bawa baju ganti pun minimal pas nyampe bawah covernya tinggal dicopot dan celana pun tidak terlihat terlalu kotor.. 😀 Buat ngelindungin sepatu supaya gak kemasukan pasir juga sih. Trus trus ya, kemaren itu saya beli sepatu khusus buat trekking, tapi ternyata pergelangan kaki saya malah jadi lumayan berasa sakit euy! Abisnya kan sepatunya rada tinggi gitu, jadi rada neken pergelangan kaki klo pas lagi posisi kakinya nekuk. Mungkin ya, menurut pendapat saya aja sih ini, mendingan pake sepatu kets biasa yang belakangnya gak terlalu tinggi, tapi pake gaiters itu buat ngelindungin dari pasir ato batu. Tapi ini mungkin loh ya, belum nyobain juga soalnya.. 😀

untung masih sempet poto terakhir sebelum naik bus.. Otsukaresamadeshitaaa… ^^

Akhirnya saya pun berhasil nyampe rumah dengan kondisi tubuh remuk redam *lebay! Gak lagi lagi deh saya naik Fuji-san! kecuali kalo ntar udah ada cable car nya, hihi.. Tapi cukuplah buat jadi pengalaman sekali seumur hidup, sunrisenya breathtaking.. ^^

Patut dicoba kok naik gunung yang satu ini. Karna jalurnya gak sedahsyat gunung di Indonesia, buat pemula banget pun insyaAllah aman-aman aja. Klo naiknya santai mungkin bakal lebih enak kali ya 😀


Advertisements

4 responses to ““Naik” Fuji-san ^^

    • iya ni Bay, gomen neee… taun depan aja kali Bay, ajakin pak Agus sama Seto gitu, pak Agus pengen ikut juga sebenernya kemaren tapi ada presentasi juga katanya..

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s